Tampilkan postingan dengan label Kabar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kabar. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Desember 2019

FAF Luncurkan Buku Edukasi Tentang Laut di Wakatobi

Oleh Zairin Salampessy


Penulis dan Direktur Yayasan Firda Athira Foundation (FAF) Firda Athira Azis (kedua kiri), membubuhkan tanda tangan pada buku Aku dan Laut Indonesia, yang diluncurkan di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Falah Waetuno, Desa Patuno, Kecamatan Wangi-wangi, Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara, Selasa (17/12/2019).(GATRA/Zairin Salampessy/ar)

Wakatobi, Gatra.com - Mata Siti Nur Maulia (10), berbinar-binar saat mendapatkan buku berjudul "Aku dan Laut Indonesia", yang baru saja diluncurkan di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Falah Waetuno, Desa Patuno, Kecamatan Wangi-wangi, Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara Selasa (17/12/2019).

Selain Maulia, ada 164 anak lainnya di Wakatobi, yakni dari MI Nurul Falah, SD 1 Patuno SD 2 Patuno, SD Waelumu, mendapatkan buku yang ditulis Firda Athira Azis dan diterbitkan oleh Yayasan Firda Athira Foundation (FAF) ini.

"Saya suka sekali dengan bukunya. Gambar-gambarnya bagus dan ada pelajaran di buku ini. Ikan-ikan di buku ini juga ada di laut kami," ujar siswi kelas 6 SD Waelumu ini, kepada Gatra.com, saat dimintai komentar soal buku yang didesain dengan gaya animasi film-film kartun Hollywood, oleh Diecky Suprayogi, Bagus Saputro dan Dinda dari Dipadira Studio ini.

Kepada Gatra.com, Direktur dan Co-Founder FAF, Firda Athira Azis menuturkan, misinya menulis dan menerbitkan buku ini untuk mengajak anak-anak bersama-sama mencintai dan menjaga kelestarian laut di daerah mereka masing-masing.

"Sebagai generasi langgas (generasi milenial), saya berpikir bahwa sudah saatnya saya aktif memberikan edukasi pada anak-anak Indonesia, tentang mencintai laut Indonesia," ujar putri Kepala Kepolisian RI Jenderal Pol. Idham Azis, di sela-sela menandatangani buku yang diterbitkan FAF bersama Penerbit Pustaka LaBRAK ini.

Gadis kelas 3 sebuah SMA di Kota Jakarta, yang bercita-cita menjadi dokter dan punya kepedulian besar pada anak-anak ini, berharap para anak Indonesia peduli dan saling bahu-membahu menjaga laut di daerahnya masing-masing.

"Dengan menjaga laut Indonesia, berarti kita berkontribusi juga dalam menjaga kelestarian biota laut Indonesia yang sangat kaya," imbuh buah hati pasangan Drs. Idham Azis M.Si dan Fitri Idham S.K.M., yang aktif pada beragam kegiatan sosial dan kemanusiaan, termasuk bersama anak-anak di pesisir pantai ini.

Dia mengingatkan, begitu luasnya laut Indonesia, menjadikannya rumah besar bagi ribuan jenis biota laut.

"Ribuan biota laut itu, antara lain 2.057 spesies ikan terumbu karang, 120 spesies ikan hiu, 2 spesies Pari Manta dan 6 dari 7 spesies penyu laut yang ada di dunia," paparnya.

Pada kesempatan yang sama, Pendiri dan Pembina Firda Athira Foundation, Dwi Prihandini, menyebutkan bahwa generasi langgas memiliki kekuatan untuk mengakses informasi dan menyebarkan informasi dengan cepat.

"Tak hanya itu, jumlah populasi mereka yang cukup besar yaitu sekitar 84 juta orang, merupakan kekuatan baru yang dapat membawa perubahan positif," ujar Dwi yang juga adalah Inspirator Nasional Kementerian Pemberadayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA) RI itu.

Menurut Dwi, sebagai sebuah negara yang memiliki komposisi laut sebesar 75%, upaya positif yang dilakukan oleh Firda Athira Azis untuk mempersuasi lewat kegiatan ini patut diapresiasi.

"Harapan saya, dengan adanya buku ini, semakin banyak remaja yang memiliki kepedulian terhadap laut Indonesia, dan semakin banyak anak Indonesia yang tergugah hatinya untuk mencintai laut Indonesia serta menjaga biota lautnya," ujar psikolog perdamaian, yang juga Direktur Clerry Cleffy Institute ini.

Dwi menyebutkan, pada acara peluncuran buku yang dikemas dengan suasana ceria dan menghibur bagi anak-anak ini, setiap undangan mendapatkan goody bag dari FAF yang isinya antara lain tas sekolah, tas kain blacu, satu (1) pak buku tulis (isi 10 buah), pouch, dan tumbler air minum.

"Kami sengaja memberikan tumbler air minum, dengan maksud mengedukasi anak-anak agar mengurangi penggunaan botol plastik air mineral. Sebab botol plastik bekas kemasan air mineral ikut menyumbang sampah pada pantai beberapa daerah di Indonesia. Semoga di Wakatobi tidak," harap Dwi.

Selain masing-masing murid dan kepala sekolah mendapatkan buku Aku dan Laut Indonesia, kepada keempat sekolah juga diberikan alat permainan Ular Tangga raksasa.


Sumber: Gatra.com | 17 Desember 2019

Senin, 30 April 2018

Buku "Sepotong Surga di Kaki Pesagi" Segera Diluncurkan

Liwa, Lampung Barat (Antaranews Lampung) - Buku "Sepotong Surga di Kaki Pesagi" karya para pemenang dan terpilih dalam Lomba Menulis Pesona Lampung Barat segera diluncurkan dalam hajatan Jambore Literasi se-Lampung di Liwa, Lampung Barat, 2 Mei 2018.

Bupati Lampung Barat Parosil Mabsus di Liwa, Senin (30/4), menyampaikan mengapresiasi buku yang diterbitkan Pustaka LaBRAK dan Forum Literasi Lampung Barat (FLLB) tersebut.


Minggu, 29 April 2018

'Sepotong Surga di Kaki Pesagi' Diluncurkan di Jambore Literasi se-Lampung

Oleh M. Syahran W. Lubis


Puncak Gunung Pesagi, titik tertinggi di Provinsi Lampung. - Instagram@mrnapr
Bisnis.com, JAKARTA – Buku Sepotong Surga di Kaki Pesagi karya para pemenang dan terpilih Lomba Menulis Pesona Lampung Barat segera diluncurkan dalam hajatan Jambore Literasi se-Lampung di Liwa, Lampung Barat (Lambar), pada Rabu (2/5/2018).

Bupati Lambar Parosil Mabsus mengapresiasi buku yang diterbitkan Pustaka LaBrak dan Forum Literasi Lampung Barat (FLLB) ini.

Kamis, 05 April 2018

Sahabat Karin Gelar Diskusi Buku Lampungisme Karya Karina Lin

Laporan Imelda Astari


Karina Lin memperlihatkan bukunya “Lampungisme: Sosiokultur, Alam & Infrastruktur Bumi Ruwa Jurai”. | Imelda Astari/duajurai.co
BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Sekelompok perempuan yang menamakan diri Sahabat Karin akan menggelar diskusi dan bedah buku “Lampungisme: Sosiokultur, Alam & Infrastruktur Bumi Ruwa Jurai” karya Karina Lin. Rencananya, kegiatan itu berlangsung di Bukit Mega Raya, Jalan Thabranie Daud, Tanjung Gading, Kota Bandar Lampung, Minggu mendatang, 8 April 2018, pukul 13.00 WIB.

Diskusi yang dimoderatori Asisten Ombdusman Lampung Atika Mutiara Oktakevina itu akan menghadirkan sejumlah narasumber. Mereka adalah mantan Dekan FISIP Universitas Bandar Lampung (UBL) Jauhari M Zaelani, dosen FMIPA Universitas Lampung (Unila) Admi Syarif, dan Pemimpin Redaksi (Pemred) duajurai.co Juwendra Asdiansyah.


Minggu, 15 Oktober 2017

Penulis Lampung harus Imbangi Buku Frieda Amran


Peluncuran dan Diskusi Lampung Tumbai. | Rikman/Fajar Sumatera
BANDARLAMPUNG — Para penulis di Lampung harus menulis juga mengenai wilayah ini untuk mengimbangi tulisan peneliti Belanda yang disadur Frieda Amran dalam rubrik Lappung Beni di Fajar Sumatera atau sebelumnya Lampung Tumbai di Lampung Post yang kemudian dihimpun dalam dua buku yang terbit 2015 dan 2017.

Antropolog Frieda Amran menegaskan hal itu saat peluncuran bukunya, Meniti Jejak Tumbai di Lampung: Zollinger, Kohler, PJ Veth–Lampung Tumbai 2015 di Pusat Dokumentasi Lampung (PDL) Jalan Imam Bonjol No. 28A Langkapura, Bandarlampung, Sabtu (14/10/2017).


Sabtu, 14 Oktober 2017

Diminta Jadi Ketua Satupena Lampung, Heri Wardoyo: Penulis Saya Kursuskan Bahasa Asing

Oleh Imelda Astari



Frieda Amran (duduk di tengah) meluncurkan buku, Sabtu, 14/10/2017. | Imelda Astari/duajurai.co
BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Wakil Bupati Tulangbawang Heri Wardoyo diminta menjadi Ketua Persatuan Penulis Indonesia (Satupena) Lampung. Bila menjadi ketua, mantan jurnalis itu akan mengirim penulis Lampung ke lembaga kursus bahasa asing.

“Kalau mereka (para penulis) mau faedahnya, bergabung di Satupena. Saya diminta untuk jadi ketua di Lampung,” kata Heri usai menghadiri peluncuran dan diskusi buku “Meniti Jejak Tumbai di Lampung: Zollinger, Kohler, dan PJ Veth -Lampung Tumbai 2015” karya Frieda Amran. Acara berlangsung di Pusat Dokumentasi Lampung (PDL), Rumah Ukir Lampung Agus Suprayoga, Jalan Imam Bonjol, Kemiling, Bandar Lampung, Sabtu, 14/10/2017.


Peluncuran Buku Frieda Amran, Nasir Tamara: Penulis Lampung Berkesempatan Go Internasional

Oleh Imelda Astari


Ketua Satupena Nasir Tamara | Imelda Astari/duajurai.co
BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Ketua Persatuan Penulis Indonesia (Satupena) Nasir Tamara mengatakan, penulis Lampung berpeluang besar untuk go nasional, bahkan go internasional. Kehadiran Satupena sebagai sebuah organisasi para penulis lintas genre bisa memberikan kesempatan bagi para penulis menerbitkan bukunya tanpa memikirkan sumber dana, dan persoalan lain-lain.

Hal itu disampaikan Nasir saat peluncuran dan diskusi buku “Meniti jejak Tumbai di Lampung: Zollinger, Kohler, dan PJ Veth -Lampung Tumbai 2015” karya Frieda Amran. Acara berlangsung di Pusat Dokumentasi Lampung (PDL), Rumah Ukir Lampung Agus Suprayoga, Jalan Imam Bonjol, Kemiling, Bandar Lampung, Sabtu, 14/10/2017.


Frieda Amran Luncurkan Buku Meniti Jejak Tumbai di Lampung

Oleh Imelda Astari


Frieda Amran (duduk di tengah) meluncurkan buku Sabtu, 14/10/2017. | Imelda Astari/duajurai.co
BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Frieda Amran meluncurkan bukunya “Meniti Jejak Tumbai di Lampung: Zollinger, Kohler, dan PJ Veth -Lampung Tumbai 2015”. Acara yang dibarengi dengan diskusi itu berlangsung di Pusat Dokumentasi Lampung (PDL), Rumah Ukir Lampung Agus Suprayoga, Jalan Imam Bonjol, Kemiling, Bandar Lampung, Sabtu, 14/10/2017.


Kamis, 26 Januari 2017

Pemkab Pesisir Barat Dukung Pengembangan Sastra Lampung

Peluncuran dan Diskusi Buku Novel Negarabatin karya Udo Z Karzi, dan Kumpulan Sajak Sekekejungni Pesiser Sememanjangni Angangon karya Elly Dharmawanti dan SW Teofani, di Gedung BBC Pekon Kampungjawa, Kec. Pesisir Tengah, Pesisir Barat, Selasa (24/1). (FOTO: ANTARA Lampung/Ist)

Krui, Pesisir Barat (ANTARA Lampung) - Pemerintah Kabupaten Pesisir Barat, Lampung berkomitmen mengembangkan bahasa, sastra, dan budaya Lampung, antara lain dibuktikan oleh Bupati Agus Istiqlal dan Wakil Bupati Erlina sering menggunakan bahasa Lampung dalam acara formal dan nonformal.

Bupati ingin mengembangkan masyarakat Pesisir Barat yang buadat (beradat) dan buadab (beradab), kata Asiten III Bidang Administrasi Umum Pemkab Pesisir Barat Husni Aripin, di Krui, Kamis.


Kamis, 12 Januari 2017

Novel & Sajak Berbahasa Lampung Segera Diluncurkan

BANDARLAMPUNG - Dua buku sastra berbahasa Lampung yang baru saja terbit akhir tahun lalu segera diluncurkan di Krui, Pesisir Barat, Lampung.

Novel Negarabatin karya Udo Z Karzi dan Sekekejungni Pesiser
Sememanjangni Angangon
karya Elly Dharmawanti dan SW Teofani.
Menurut penulis buku itu, Udo Z Karzi atau Zulkarnain Zubairi, dua buku tersebut adalah Novel Negarabatin karya Udo Z Karzi dan kumpulan sajak Sekekejungni Pesiser Sememanjangni Angangon karya Elly Dharmawanti dan SW Teofani.


Rabu, 11 Januari 2017

Dua Buku Sastra Bahasa Lampung Diluncurkan di Krui

BANDARLAMPUNG -- Dua buku sastra berbahasa Lampung yang baru saja terbit akhir tahun lalu akan diluncurkan di Krui, Pesisir Barat, Sabtu 21 Januari nanti. Dua buku tersebut adakah novel Negarabatin karya Udo Z Karzi dan kumpulan sajak Sekekejungni Pesiser Sememanjangni Angangon karya Elly Dharmawanti dan SW Teofani.

Novel Negarabatin karya Udo Z Karzi dan Buku Puisi Sekekejungngi Pesiser
Sememanjangni Angangon
karya Elly Dharmawanti dan SW Teofani.
Elly Dharmawanti, salah satu penulis yang memang berdomisi di Krui, Pesisir Barat memastikan kedua buku yang diterbitkan Pustaka LaBRAK dan Aura Publishing ini akan didiskusikan di Aula SMAN 1 Pesisir Barat. "Kalau tidak ada perubahan, peluncuran buku ini diselenggarakan OSIS SMAN 1 Pesisir Barat dengan mengundang seluruh SMA di Pesisir Barat," kata dia.


Kamis, 14 April 2016

Udo Zul -Ali Launching Buku

LIWA, FS -- Dua buku dari Zulkarnain Zubaidi yang sering dipanggil Udo Z Karzi bersama Ali Rukman berjudul Ke Negarabatin Mamak Kenut Kembali dan Saya Belajar Dari Sini diluncurkan di Unit Pelaksana Kegiatan (UPK) PNPM Balik Bukit, Pekon Gunung Sugih, Liwa, Lampung Barat, Rabu (13/4).

Udo Z Karzi menyerahkan buku secara sombolis kepada Kepala SMAN 1 Liwa.
Penulis Ke Negarabatin Mamak Kenut Kembali, Udo Z Karzi mengatakan akhirnya ia kembali mengeluarkan buku, meskipun tidak semua orang cinta dengan buku. "Saya tidak pernah kapok bikin buku, walau buat buku tak seperti bikin kue," kata dia.


Jumat, 22 Januari 2016

Ngupi Pai Bareng Frieda Amran

Frieda Amran
Bandarlampung, pojoksamber.com- Penernit Buku lokal Pustaka LaBRAK menggelar acara Ngupi Pai Bareng Frieda Amran, Kolumnis dan Penulis Buku Lampung Tumbai,Sabtu, 23 Januari 2016 pukul 19.00 di Kafe Dawiels.

Kepada pojosamber.com, Udo Z Karzi mengatakan bahwa banyak hal bisa kita diskusikan bersama Frieda Amran terkait Lampung dulu, kini, dan masa depan. Meski demkiian, Udo Z Karzi juga mengingatkan bahwa acara ini bersifat independen.


Jumat, 08 Januari 2016

Dua Buku Kental Warna Lokal Lampung Terbit

Putri Al-shira Diana membaca Kumcer Batu Serampok karya Tita Tjindarbumi.
BANDARLAMPUNG – Dua buku yang kental nuansa lokal Lampung segera hadir. Pustaka Labrak, sebuah penerbit di Lampung yang banyak mengangkat khazanah budaya Lampung meluncurkan dua buku, yaitu Batu Serampok dan edisi kedua Mencari Jejak Masa Lalu Lampung, Lampung Tumbai 2014.

Direktur Pustaka Labrak Udo Z Karzi mengatakan, Batu Serampok adalah kumpulan cerpen Tita Tjindarbumi, penulis asal Lampung yang kini tinggal di Surabaya. Sedangkan Mencari Jejak Masa Lalu Lampung merupakan sehimpun artikel Frieda Amran yang dimuat di rubrik Lampung Tumbai, Lampung Post Minggu tahun 2014.

Buku Mencari Jejak Masa Lalu Lampung: Lampung Tumbai 2014
karya Frieda Amran (Pustaka LaBRAK, Bandar Lampung, 2016).
“Kedua buku ini bisa menjadi bacaan penyejuk hati di tengah sumpeknya perpolitikan pasca-Pilkada dan gonjang-ganjing isu ekonomi yang tetap mengkhawatirkan. Bagi yang ingin memahami sedikit mengenai manusia dan budaya Lampung, kedua buku ini wajib dibaca,” kata Udo.

Penulis Batu Serampok, Tita Tjindarbumi menyatakan kegembiraannya dengan terbitnya buku kumpulan cerpen perdananya ini. “Dengan kumpulan cerpen ini, saya merasa kembali ke dunia saya. Ini yang membuat hati saya bersorak gembira. Menulis cerpen bagi saya adalah rekreasi. Bertualang dari tokoh ke tokoh. Membayangkan setting lokasi yang indah dan tentu punya banyak cerita,” ujarnya.

Tita mengaku kehadiran buku ini seperti simbol pulang kampung baginya. “Seperti kata Udo (Udo Z Karzi) beberapa tahun lalu, jika penulisnya belum bisa pulang kampung, setidaknya karyanya pulang kampung. Dan, cerpen-cerpen di buku ini semua telah dimuat di Lampung Post dan Fajar Sumatera, yang terbit di Bandarlampung,” ucapnya lagi.

Mengomentari buku kumpulan cerpen ini, paus sastra Lampung Isbedy Stiawan ZS mengatakan,  TitaTjindarbumi bukan  nama asing dalam percaturan cerpen di Indonesia, "jebolan" Anita Cemerlang ini sampai sekarang masih setia dengan dunia "mimpi"-nya.

“Bagi perempuan cerpenis asal Lampung dan menetap di Surabaya ini, pulang adalah kunci bagi menghimpun kenangan-kenangan (dan kerinduan) yang pernah tercecer semasa kanak-kanak. Di dalam kumpulan cerpennya ini, terkuak hal-hal yang saya terangkan itu, seperti cerpen yang memimpin cerita-cerita lainnya; Batu Serampok,” kata Isbedy. 

Sebagai perempuan, kata Isbedy, Tita juga mengedepankan ihwal gender. Sejumlah cerita yang membicarakan lelaki terhimpun di sini, di samping dunia keperempuanan itu sendiri. “Tentu sangat menarik, dan patut dibaca dan dihargai. Inilah perempuan cerpenis semasa remaja di Jalan Raden Intan Gang Tjindarbumi, Bandar Lampung.“

Lampung Tumbai

Sedangkan Frieda Amran mengatakan buku Mencari Jejak Masa Lalu Lampung yang ditulisnya merupakan kumpulan artikel yang diterbitkan di dalam rubrik ‘Lampung Tumbai’ di harian Lampung Post selama tahun 2014. “Artikel-artikel itu ditulis berdasarkan tulisan-tulisan para ilmuwan, pegawai pemerintahan Hindia-Belanda dan penjelajah Inggris dan Belanda di abad ke-19 mengenai Lampung. Sebagian besar artikel itu ditulis dalam bahasa Belanda kuno. Hanya satu artikel (dari tangan Kapt. Jackson) yang ditulis dalam bahasa Inggris,” kata dia.

Ia menegaskan artikel-artikel ‘Lampung Tumbai’ bukanlah merupakan terjemahan.  Struktur kalimat dan gaya tulis bahasa Belanda kuno teramat panjang dan berbelit-belit. Untuk pembaca awam di masa kini, struktur dan gaya bahasa demikian  akan sangat membosankan. Karena itu ia menulis ulang sumber-sumber tulisan itu dengan gaya penuturannya sendiri.

Peneliti di Pusat Penelitian Sumberdaya Regional, LIPI Erwiza Erman dalam pengantarnya di buku ini mengatakan, buku Mencari Jejak Masa Lalu Lampung cukup penting secara keilmuan bagi orang Lampung dan para peminat sejarah.

Persoalan bahasa menjadi kendala utama yang mematahkan semangat mahasiswa dan peneliti untuk tidak menggunakan pendekatan sejarah yang memanfaatkan sumber-sumber tertulis berbahasa Belanda. “Ini ide cemerlang seorang antropolog yang menyejarah, Frieda Amran. Sebagai seorang yang pernah menjadi mahasiswa Pascasarjana Jurusan Antropologi di Universitas Leiden, pernah menggunakan pendekatan sejarah untuk objek studinya di bidang Antropologi dan tinggal di negeri Belanda, ia memahami  betul keterbatasan-keterbatasan tersebut,” ujar Erwiza.

Menurut sejarawan ini, sumber-sumber tertulis tentang Lampung begitu kaya dan tampaknya belum diolah dengan baik. “Misalnya saja informasi mengenai mitos dan asal-usul nama Lampung dan orang Lampung. Sumber-sumber informasi untuk satu tema ini saja dapat membangkitkan pertanyaan-pertanyaan kritis tidak saja tentang asal-usul dan mitosnya, tetapi juga mengenai sejarah pembentukan marga, suku, kampung dan persebarannya  dalam pola geografi yang berbeda, di pedalaman dan di pantai.”

Pertanyaan-pertanyaan lanjut, kata dia, misalnya tentang sejarah pembentukan kampung, sejarah demografi Lampung, termasuk pola migrasi dari satu periode ke periode lain. Lampung adalah wilayah transmigran Jawa yang telah dirancang Belanda pada awal abad ke-20.  

Sumber: Fajar Sumatera, Jumat, 8 Januari 2016 22



Selasa, 28 Juli 2015

"Sajak Bujang Tak Punya Uang” Tri Purna Jaya Buat Pembaca Terpingkal-Pingkal

Oleh Adian Saputra

Tri Purna Jaya
Duajurai.com, Bandar Lampung – Ada satu sajak dalam buku kumpulan puisi karya wartawan Tribun Lampung dalam buku Senja Menuju Pulang ini yang lucu dan membuat pembaca terpingkal-pingkal. Duajurai.com mengutip status Facebook Udo Z Karzi, Direktur Pustaka Labrak, yang menerbitkan karya anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung ini.

Silakan disimak ya.


Sajak Bujang Tak Punya Uang:

Sabtu ini terlihat sendu
ketika kusadari betapa tipis ini saku
dompet biru merajuk malu
saat kusapa, “Aku kangen kamu”

Oh hari Sabtu
tangki bensin berdebu
duhai malam Minggu
meringkuk memegang erat perutku.


Oki Hajiansyah Wahab, seorang netizen yang juga anggota AJI Bandar Lampung sampai terpingkal-pingkal usai membaca sajak bikinan jurnalis yang sebentar lagi memasuki jenjang rumah tangga ini.

“Sajak Bujang Tak Punya Uang ini yang bikin ngekek, wakakakaka,” tulis Oki dalam percakapan Facebook.

Pustaka Labrak dan Indepth Publishing bekerja sama menerbitkan kumpulan puisi Tri Purna Jaya ini. Insya Allah sebentar lagi pembaca di Bandar Lampung bisa membeli buku kumpulan puisi yang bahasanya segar dan tak njelimet ini.

Sumber: DuaJurai.com, 28 Juli 2015

Pustaka Labrak-Indepth Publishing Terbitkan Buku Puisi Jurnalis Tribun Lampung Tri Purna Jaya

Oleh Adian Saputra

Duajurai.com, Bandar Lampung – Pustaka Labrak dan Indepth Publishing berkolaborasi menerbitkan buku kumpulan puisi wartawan Tribun Lampung Tri Purna Jaya. Judul buku kumpulan sajak itu Senja Menuju Pulang.

Udo Z Karzi dari Pustaka Labrak dalam status Facebook yang menandai duajurai.com Selasa, 28/7/2015 menjelaskan, puisi-puisi Tri ini meluncur lincah tanpa beban dalam baris-baris membuat puisi-puisinya terasa hidup.

“Tanpa harus njelimet memikirkan makna di balik larik-larik, Tri berhasil membangun suasana intens dan mesra dengan pembaca. Ya jelas saja, hal ini menjadi daya tarik tersendiri dari karya-karya wartawan Tribun Lampung ini,” tulis Udo yang belasan tahun menjadi wartawan Lampung Post. Kini Udo menjadi redaktur pelaksana Fajar Sumatera.

Kata Udo, Tri termasuk penyair hujan juga. Bisa kita lihat dari banyak puisi yang menerakan “hujan” dalam judulnya seperti Kala Hujan yang mengawali kumpulan sajak ini. Lalu, Tentang Hujan dalam Misteri Berkepanjangan, Hujan dan Kita, Pertanyaan-pertanyaan Miris dalam Beberapa Kisah yang Sedikit Melankolis, Hujan di Stasiun, Hujan Pasti akan Datang, dan Kisah Hujan Ihwal Awan.

“Ada juga sajak berbicara hujan dalam judul yang tidak jauh dari sesuatu yang berhubungan dengan hujan: Tak Lagi Merona, Andai Saja Aku Pelangi, dan Aksara yang Tercecer,” tulis Udo.

“Saya memang suka menulis puisi saat hujan datang,” kata Tri suatu ketika. Selamat ya Tri.

Sumber: DuaJurai.com, 28 Juli 2015

Kamis, 26 Desember 2013

Gerimis Tak Menyurutkan Diskusi Buku Tumi Mit Kota

Oleh Admin Lampungupdate

TAK banyak orang yang mengetahui bahwa Lampung kaya akan sastra. Pelbagai karya sastra, mulai dari puisi hingga novel, telah banyak diterbitkan oleh penulis-penulis Lampung. Dari sedemikian banyak pusi, novel, atau pun cerita pendek (cerpen) yang telah diterbitkan menggunakan bahasa Lampung. Bagi masyarakat Lampung, karya sastra berbahasa daerah, khususnya bahasa Lampung, masih asing untuk dibaca.

DISKUSI. Suasana Diskusi Buku Tumi Mit Kota karya Udo Z Karzi dan
Elly Dharmawanti di Lapa Kopi Lampung, Bandar Lampung, Minggu,
22 Desember 2013.
Namun, tetap ada penulis yang nekat menulis karya sastranya menggunakan bahasa Lampung. Ada Udo Z Karzi dan Elly Dharmawanti yang nekat menulis cerpen berbahasa Lampung. Mereka berdua menulis kumpulan cerita buntak (kumpulan cerpen, red) berjudul Tumi Mit Kota (Tumi Pergi ke Kota).

Untuk mengapresiasi Tumi Mit Kota, LampungUpdate bersama BebalahLeppung beberapa waktu lalu mengadakan diskusi buku di Lapa Kopi Lampung (22/12/13). Dalam diskusi buku ini, Udo Z Karzi dan Elly Dharmawanti dihadirkan untuk mendidkusikan isi kumpulan cerita buntak yang mereka tulis. Dalam diskusi buku tersebut, juga hadir masyarakat pecinta buku Lampung dan komunitas pecinta sastra Lampung.

Gerimis yang turun saat diskusi buku ini tidak menyurutkan diskusi trotoar yang terasa istimewa ini. Pertama, diskusi buku ini istimewa karena Lapa Kopi Lampung khusus buka pada saat diskusi, padahal biasanya mereka tutup setiap malam Senin. Kedua, diskusi ini istimewa karena dilakukan saat hari Ibu 22 Desember. Dan ketiga, diskusi ini terasa istimewa karena dihadiri pula Fitri Yani, penulis kumpulan puisi berjudul Suluh (juga berbahasa Lampung).

Dalam diskusi yang dimulai dari pukul delapan malam hingga pukul sebelas malam ini, para peserta diskusi menyambut baik kehadiran kumpulan cerpen Tumi Mit Kota. Mereka merasa buku kumpulan cerpen ini ini merupakan awal kebangkitan sastra berbahasa Lampung. Mereka juga merasa bahwa kumpulan cerpen Tumi Mit Kota dapat dijadikan media belajar bahasa Lampung. n

Sumber: Lampungupdate.com, Kamis, 26 Desember 2013

Selasa, 24 Desember 2013

Tumi Mit Kota Diminati Kalangan Muda

Oleh Wandi Barboy

BANDAR LAMPUNG (Lampost.co): Buku cerita buntak (cerpen berbahasa Lampung) Tumi Mit Kota yang ditulis Udo Z Karzi bersama Elly Dharmawanti kembali diminati kalangan muda dan komunitas sosial media lainnya.

Diskusi buku yang diterbitkan oleh Pustaka Labrak kembali digelar Lapa Kopi Lampung di pelataran Gerai Esia, Jalan Ahmad Yani, Tanjungkarang Pusat, Bandar Lampung, Minggu (22/12). Acara dengan suguhan kopi Robusta Liwa itu menarik sejumlah pengunjung yang terdiri dari lintas etnis.

Acara yang dimoderatori Rifky Indrawan, aktivis Jaringan Radio Komunitas Lampung (JRKL) itu berlangsung hangat dan terbuka bagi siapa saja. Saat hujan mulai turun, acara pun berpindah ke dalam gerai esia.

Udo mengungkapkan cerita Tumi Mit Kota (Tumi Pergi ke Kota) adalah kisah pribadi Udo saat menjalani kuliah kerja nyata (KKN) di Kecamatan Pesisir Selatan, Pesisir Barat. Tuminingsih, nama lengkapnya.

Menurut Udo, Tumi adalah seorang wanita Jawa yang mencintai budaya Lampung. Walau pun dia Jawa, rasa kecintaannya terhadap budaya Lampung tidak diragukan lagi. Atas dasar itulah, Udo menuliskan cerita Tumi Mit Kota. Tumi sendiri, bagi Udo, selain diangkat dari sosok Tuminingsih, adalah juga merupakan suku asli Lampung di wilayah pesisir.

Udo sendiri memuat tujuh cerbun dalam buku ini. Sementara, Elly membuat enam cerpen. Menurut Udo dan Elly, dari buku ini mereka ingin mengakrabkan dirinya dengan pembaca Lampung yang berbeda-beda. Karena itu, bahasa Lampung yang berbeda antara Udo maupun Elly tetap dipertahankan apa adanya sesuai lisan penuturnya. "Tumi itu sekilas identik dengan Jawa. Namun, sangat melampung. Karena itu, mengapa orang Lampung malu dengan budayanya sendiri," kata Elly.

Elly Dharmawanti juga merespon pelajar di Liwa yang mempertanyakan mengapa mereka berdua mau menerbitkan buku berbahasa Lampung, apalagi cerpen yang terbatas segmentasinya. Menurut Elly, dari buku ini dia berharap orang Lampung harus berani mengungkapkan apa yang memang menjadi bahasa penutur masing-masing. n

Sumber: Lampost.co, Rabu, 24 Desember 2013

Minggu, 22 Desember 2013

Tumi Disambut Hangat Siswa di Liwa

Oleh Dian Wahyu Kusuma


Sambutan hangat siswa-siswi di Liwa terhadap kumpulan cerita buntak (cerpen berbahasa Indonesia) Tumi Mit Kota karya Udo Z. Karzi dan Elly Dharmawanti, semoga menjadi pertanda bagus bagi perkembangan sastra (berbahasa) Lampung.  

CERBUN Tumi Mit Kota terasa simbolik karena ini bisa ditafsirkan bermacam-macam. Kalau membaca cerbun ini, Tumi atau nama lengkapnya Tuminingsih adalah seorang gadis remaja beretnis Jawa yang sangat menjiwai bahasa dan kultur Lampung. Hanya saja ia tak bisa melawan kecenderungan umum untuk urbanisasi.

Dari sisi sejarah, Buay Tumi merupakan suku asal orang Lampung. Setidaknya suku inilah yang dipercaya membangun Kerajaan Skala Brak di kaki Gunung Pesagi, Lampung Barat. "Bahkan di Malaysia kabarnya ada Toko Tumi. Sehingga bagi saya Tumi itu mempunyai multimakna dan asyik didengar. Karena itu judul ini yang dipilih," kata Udo Z. Karzi, salah satu penulis dalam Peluncuran dan Diskusi Buku Tumi Mit Kota di SMAN 2 Liwa, Lampung Barat, Kamis (19/12).

Elly Dharmawanti menambahkan Tumi itu panggilan mesra Tuminingsih. Tumi itu orang Jawa asli tinggal di Lampung dan sudah melampung. "Ini sindiran, banyak orang Lampung malu berbahasa Lampung. Apalagi kalau sudah di kota, penggunaan bahasa lampung sudah mulai pupus."

Dalam cerbun Pancoran Pitu, Elly berkisah tentang pancuran tujuh di Kecamatan Batubrak, Lampung Barat. Konon, kalau mandi di pancuran ini akan membuat gadis cantik. Kisahnya dulu pancuran itu adalah tempat pemandian putri Kerajaan Skala Brak. Sampai suatu ketika kekeringan melanda yang membuat masyarakat kesulitan mendapatkan air.

Akhirnya, pancuran tujuh itu dibebaskan untuk dimanfaatkan untuk masyarakat. Sekarang, pancuran itu sudah dibangun dan dibuat undakan agar masyakat di situ mudah menggunakannnya.

Ide cerita ini didapat Elly yang fasilitator Kecamatan PNPM di Pesisir Selatan yang kebetulan sedang ada bekerja di Batubrak, Lampung Barat. "Tebersit di pikirannya untuk membuat cerita tentang kepercayaan warga setempat. Saat itu sedang ada perbaikan pancuran pitu. Mau awet muda, sehat, bisa mandi di situ,” kata perempuan alumnus ilmu komunikasi Universitas Tulangbawang ini.

***

Elly sering menulis cerpen di Lampung Post. Udo Karzi mengaku tidak pernah bertemu langsung dengan Elly, hanya berkomunikasi melalui dunia maya saja. Sampai kemudian terbetik keinginan untuk membukukan cerpen-cerpen Elly yang bernuansa lokal dan kuat secara kultural. "Kami kemudian berkolaborasi menerbitkan buku kumpulan cerbun ini," ujar Elly.

Buku yang diterbitkan Pustaka Labrak, Bandar Lampung ini, kata Udo, sangat cocok dibaca siswa SMP dan SMA. "Buku ini bisa menjadi stimulan bagi kalian. Siapa tahu nanti juga menulis karya sastra berbahasa Lampung. Kenapa tidak. Daerah ini sangat potensial bagi siswa karena adat budaya sini sangat kental," kata Duta Suhanda, yang memoderatori acara ini.

Kalau di sekolah, menurut Duta, penggunaan karya berbahasa Lampung bisa saja dimulai dari majalah dinding (mading). Selanjutnya bisa dikembangkan dengan menulis di blog atau bahkan mengirim ke media cetak dan diterbitkan menjadi buku. "Enggak apa-apa kalau ada ide membukukan cerbun karya siswa-siswa SMAN 2 Liwa," ujarnya.

Peserta peluncuran dan diskusi buku sempat dihibur oleh Yogi Sasongko, siswa kelas X SMAN 2 Liwa yang sempat menjadi juara dua Lomba Solo Song se-Kabupaten Lampung Barat.

Kepala SMAN 2 Liwa Haikan menyatakan kegembiraan dan merasa terhormat mendapat tempat peluncuran dan diskusi buku ini. "Semoga ini bisa memberikan motivasi bagi siswa kami. Meskipun sekolah ini baru berdiri pada 2010, beberapa prestasi telah ditorehkan pelajar. Diskusi buku ini sangat penting untuk meningkatkan apresiasi dan bakat sastra siswa," ujarnya.

***

Akhirnya, Tumi Mit Kota diharapkan menjadi penyemangat bagi semua, siswa-siswa terutama, untuk mengembangkan bahasa, sastra, dan budaya Lampung. Sebab, penerbitan buku berbahasa Lampung seperti diakui Udo, menjadi penting bagi upaya penyelamatan, pelestarian, dan pemberdayaan tamadun Lampung.

Sedikitnya peminat bahasa-budaya Lampung harus menjadi tantangan. "Saya sempat kapok menerbitkan buku berbahasa Lampung. Dikritik habis dan tidak laku. Tapi pekerjaan ini, menulis dan menerbitkan buku berbahasa Lampung, tidak boleh berhenti. Ini sudah menjadi tugas sejarah yang tidak boleh diabaikan." (P2)

dianwahyu@lampungpost.co.id

Sumber: Lampung Post, Minggu, 22 Desember 2013

Minggu, 15 Desember 2013

Pustaka Labrak Terbitkan Buku Cerpen Berbahasa Lampung

BANDARLAMPUNG (Lampost.co): Pustaka Labrak menerbitkan buku kumpulan cerita pendek (cerpen) berbahasa Lampung. Kumpulan cerita buntak (Bahasa Lampung cerpen) yang diberi judul Tumi Mit Kota itu ditulis oleh Udo Z. Karzi dan Elly Dharmawanti.

Peluncuran buku pertama cerpen berbahasa Lampung itu akan digelar dan didiskusikan di SMA Negeri 2 Liwa, Lampung Barat, pada Kamis (19/2).

Kepala SMAN 2 Liwa Haikan menyambut baik acara yang digagas Organisasi Siswa Instra Sekolah (OSIS) SMAN 2 Liwa ini. "Buku kumpulan cerbun Tumi Mit Kota ini memang perlu diapresiasi karena selain bahasanya bahasa Lampung, isinya banyak mengambil latar daerah Lampung Barat dan Pesisir Barat," ujarnya.

Sedangkan Elly Dharmawanti, salah satu penulis buku ini menyatakan kegembiraannya atas sambutan siswa-siswi di Liwa. Acara ini terselenggara atas kerjasama dari berbagai pihak antara lain Kepala SMAN 2 Liwa, Pembina OSIS Trino Wijaya, Ketua OSIS Dian Yusuf, dan Duta Suhanda dari Radio Mahameru, Liwa.

Kumpulan cerbun Tumi Mit Kota yang diterbitkan Pustaka Labrak, Bandar Lampung berisi 13 cerpen Elly Dharmawanti dan Udo Z. Karzi. Judul buku ini diambil dari judul cerpen bertitel sama dari Udo Z. Karzi.

Menurut redaktur Penerbit Pustaka Labrak, Udo Z. Karzi, judul diambil karena paling tidak cerpen ini menggambarkan kondisi kontemporer masyarakat Lampung terkait dengan orientasi hidup, pergeseran tatanan sosiobudaya, dan kecenderungan urbanisasi di antara warga Lampung.

Alasan lain, kata Udo Z. Karzi, ada proses inkulturasi dalam diri Tumi (Tuminingsih), yang namanya dekat dengan kultur Jawa dan memang beretnis Jawa, tetapi sudah menjadi gadis Lampung benar. "Inilah yang seharusnya terjadi alih-alih marginalisasi bahasa-budaya Lampung di rumahnya sendiri," kata Udo.

Alasan ketiga, menurut Udo, jika membaca-baca sejarah, rupanya Buay Tumi atau Suku Tumi adalah nenek moyang orang Lampung. "Keempat dan seterusnya… cerbun ini bagus seperti juga cerbun-cerbun lain di buku ini, " ujarnya berseloroh

Kisah-kisah dalam buku ini membaurkan suasana laut dan pegunungan, sesekali kondisi kehidupan urban; juga ketegangan antara masa lalu dan kekinian. Dengan setting khas budaya yang khas, kedua cerpenis menuturkan ulun Lampung berikut filosofi hidup mereka dan kepiawaian mereka mengatasi problema kehidupan.

Dibandingkan dengan sastra Sunda, Jawa, dan Bali, perkembangan sastra Lampung memang kalah jauh. Betapa langkanya buku bacaan berbahasa Lampung. Padahal ini penting bagi pelestarian, pemberdayaan, dan pengembangan bahasa dan sastra Lampung.

Seharusnya setiap tahun ada buku berbahasa Lampung terbit, walau satu-dua judul. Apalagi sastra Lampung pernah mendaparkan Hadiah Sastra Rancage pada 2008 dan 2010.

Sudah lama tidak terbit buku sastra berbahasa Lampung. Terakhir, tahun 2011, terbit dua: novel Radin Inten II karya Rudi Suhaimi Kalianda (diterbitkan BE Press) dan karya klasik Warahan Radin Jambat suntingan Iwan Nurdaya-Djafar dan redaktur ahlini Hilman Hadikusuma (diterbitkan Pustaka LaBRAK).

"Oleh karena itu terbitnya terbitnya kembali buku sastra Lampung ini patut kita sambut dengan gembira," ujar Udo. n

Laporan: Insan Ares P.
Editor : Kristianto

Sumber: Lampost.co, Minggu, 15 Desember 2013