Tampilkan postingan dengan label Wacana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wacana. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Juli 2025

Darah dan Sejarah

 Oleh Doddi Ahmad Fauji

 


SAYA menerima buku kumpulan puisi Udo Z Karzi, kawan sebaya dalam bidang sastra dan jurnalistik yang berhidmat di Lampung. Bukunya diberi juluk Kesibukan Membuat Sejarah – 100 Sajak (1987-2025), di dalamnya terdiri dari tiga parsial, yaitu ‘Tilas Perjalanan’ yang terdiri dari 35 judul puisi, ‘Tilas Muasal’ terdiri dari 32 judul puisi, dan ‘Tilas Negeri’ terdiri dari 33 judul puisi. Saya cermati dari awal hingga akhir isi buku ... halaman ini.

Hal yang membuat saya iri dan tak mungkin dapat ditandingi dari Udo adalah perkenalannya dengan dunia Sastra yang sudah terjalin lebih dini dari saya. Di masa SMP Udo sudah menulis cerita fiksi (prosa) tapi belum karib dengan genre puisi. Pada saat itu, saya masih membenci pelajaran bahasa dan sastra Indonesia yang oleh guru, dipaksa untuk menghapal nama-nama sastrawan dan karyanya, termasuk periodisasi sastra Indonesia.

Sabtu, 28 Juni 2025

Puisi-puisi tidak Menuntut, tapi Menyentuh Luka

Oleh Erina Pane




TIDAKLAH mudah memberi catatan rangkaian 100 puisi dalam Kesibukan Membuat Sejarah yang bernas karya sahabat saya ini. Buku puisi ini terbagi dalam tiga bagian: Tilas Perjalanan, Tilas Muasal, dan Tilas Negeri. Tapi, saya lebih suka menyebut semua puisi dalam buku ini sebagai tilas perjalanan panjang dari penyairnya sejak lahir, sekolah, kuliah bekerja hingga melewati usai setengah abad lebih, meskipun linimasa puisi yang tertera tahun 1987 yang paling lama dan tahun 2025 yang paling baru.

Eh iya, sahabat saya ini ternyata baru berulang tahun ke-55 tanggal 12 Juni lalu. Walaupun sudah telat, saya mengucapkan, “Selamat milad ke-55, Zul.“

Selasa, 11 Februari 2020

Jalan Terjal Sastra Daerah

Oleh Lugina De


DAFTAR buku-buku sastra daerah yang dianugerahi Hadiah Sastra Rancagé tampaknya bisa dijadikan tolok ukur jejak kesusastraan daerah. Sejauh ini, ada tujuh kategori sastra daerah yang masuk “radar” penilaian Hadiah Sastra Rancagé, yaitu sastra Sunda, Jawa, Bali, Lampung, Batak, Banjar, dan Madura. Di antara ketujuh sastra daerah tersebut, tercatat sastra Sunda, Jawa, dan Bali-lah yang tidak pernah absen dalam penilaian Hadiah Sastra Rancagé. Sementara penilaian Hadiah Sastra Rancagé untuk sastra Lampung, sejak pertama kali masuk kategori penilaian pada tahun 2008, pernah beberapa kali ditiadakan akibat nihilnya penerbitan buku karya sastra. Hal yang sama juga pernah terjadi untuk kategori sastra Batak pada tahun 2019.

“Jika membandingkan ketujuh sastra daerah tersebut berdasarkan kontinuitas penerbitan buku, bisa dibilang sastra Sunda, Jawa, dan Bali termasuk paling mapan. Namun dalam waktu 30 tahun terakhir, secara kuantitas penerbitan buku sastra Sunda sendiri fluktuatif. Ada banyak faktor yang mempengaruhi,” ungkap pengamat sastra Sunda, Atep Kurnia.

Dalam bidang penerbitan, tercatat ada tiga penerbit mayor yang masih konsisten menerbitkan buku bahasa Sunda, yaitu Geger Sunten, Pustaka Jaya, dan Kiblat. Oplah sekali terbit ada di kisaran angka 3.000 sampai 4.000 eksemplar per judul. Di luar itu, muncul penerbit-penerbit indie baru yang juga mulai ikut menerbitkan buku-buku karya sastra Sunda, macam Layung, Langgam, Kentja, dan Silantang. Dalam kurun waktu 10 tahun kerakhir, rata-rata ada 10 buku karya sastra baru dalam bahasa Sunda yang terbit per tahunnya.

“Di satu sisi kemajuan teknologi memang berdampak negatif. Misalnya, semenjak ramai web portal berita banyak surat kabar cetak mengurangi jumlah halaman, atau bahkan berhenti sama sekali. Akhirnya rubrik sastra kena imbasnya. Tapi di sisi lain, dengan semakin mudahnya teknologi cetak, memungkinkan munculnya penerbit-penerbit baru. Belum lagi jika kita bicara internet. Sastra Sunda ternyata juga ikut berkembang di media sosial seperti Facebook. Secara tidak langsung hal ini turut memperluas jejaring sastra Sunda,” ucapnya lagi.

Saat ini, media cetak bahasa Sunda yang getol memuat karya sastra Sunda, baik prosa mupun puisi, bisa dihitung dengan jari sebelah tangan. Di antaranya Manglé, Galura, dan Sunda Midang. Sementara koran harian berbahasa Indonesia seperti Tribun Jabar dan Galamedia secara berkala juga memuat karya prosa bahasa Sunda. Namun di tengah sempitnya ruang menulis tersebut, animo menulis dalam bahasa Sunda tidak pernah putus. Ini terbukti dengan terus munculnya para penulis baru. Meski dengan catatan: persentasenya sangatlah kecil sekali jika dibandingkan dengan jumlah penutur bahasa Sunda yang mencapai lebih dari 25 juta jiwa.

“Akan tetapi yang harus diingat: rendahnya minat baca memang menggejala secara nasional. Di sinilah letak masalah utama. Dan hal ini juga terjadi dalam sastra Indonesia yang ruang lingkupnya lebih luas. ”

Sampai sekarang, dalam sastra Sunda hanya Yayasan Rancagé yang masih konsisten memberikan penghargaan. Sementara penghargaan-penghargaan lain, seperti hadiah DK Ardiwinata yang diinisiasi Paguyuban Pasundan, sudah lama menghilang. Penghargaan LBSS pun kembang kempis. Beberapa tahun lalu majalah Manglé masih memberikan hadiah carpon pinilih untuk cerita pendek pilihan. Namun sekarang berhenti.

Pengaruh positif penghargaan Hadiah Sastra Rancagé mungkin paling dirasakan oleh sastra Bali. I Nyoman Darma Putra, juri Hadiah Sastra Rancagé tahun 2020 menuturkan, dalam rentang waktu 10 tahun terakhir, kurang lebih ada 10 judul buku sastra baru yang terbit setiap tahunnya. Padahal jika menilik data, ucapnya, penutur bahasa Bali sendiri tidak lebih dari angka lima juta jiwa. Baginya hal ini sudah cukup menggembirakan.

“Pemerintah Provinsi Bali pernah beberapa kali memberikan penghargaan Widya Pataka. Penghargaan tersebut diberikan untuk buku berbahasa Bali, mencakup semua kategori, tidak hanya sastra saja. Selain itu, majalah Sarad juga pernah dua kali memberikan penghargaan untuk novel. Tetapi sayangnya tidak berlanjut. Balai Bahasa Bali juga dua kali memberikan penghargaan untuk penulis Bali. Kabar terakhir yang saya terima, itu juga tidak bisa berlanjut,” papar I Nyoman Darma Putra.

Tahun 2003, surat kabar Bali Post mulai membuka lembar suplemen mingguan Bali Orti sebanyak empat halaman, yang khusus memuat karangan berbahasa Bali. Atas usahanya itu, lembar suplemen Bali Orti mendapat Hadiah Sastra Rancagé bidang jasa pada tahun 2011.  Selain itu muncul pula suplemen serupa pada surat kabar Pos Bali yang memberikan ruang sebanyak dua halaman. Namun dengan semakin pudarnya koran cetak, halaman suplemen di Bali Post dan Pos Bali sekarang sudah berkurang.

“Sebelumnya ada Burat Wangi, majalah berbahasa Bali yang dimotori oleh IDK Raka Kusuma, peraih Hadiah Sastra Rancagé tahun 2002 dan 2011. Sayangnya Burat Wangi berhenti terbit karena masalah finansial. Akhirnya para pengarang yang pernah meraih Hadiah Sastra Rancagé berikhtiar mendirikan majalah online Suara Saking Bali yang sekarang sudah menginjak nomor 42, hanya saja belum bisa memberikan honor bagi penulisnya. Tetapi kita cukup gembira juga, karena dengan berdirinya Suara Saking Bali, atmosfer sastra Bali bisa terjaga. Cerpen-cerpen Bali terbaik di sana dikumpulkan, diterbitkan, kemudian didiskusikan.”

Kondisi yang lebih memprihatinkan dialami oleh sastra Lampung. Hadiah Sastra Rancagé tahun 2009, 2011, 2012, 2013, 2015, 2016 untuk sastra lampung sempat ditiadakan akibat tidak adanya buku yang terbit. Hal serupa juga terjadi pada perhelatan Hadiah Sastra Rancagé tahun 2019. Kali ini karena kuantitas buku yang terbit kurang dari ketentuan, hingga akhirnya disatukan dengan Hadiah Sastra Rancagé tahun 2020, dengan jumlah total lima judul buku.

“Buku-buku berbahasa Lampung  yang bukan kategori sastra sebetulnya sudah ada sejak lama. Tetapi untuk buku-buku sastra modern, bisa dibilang masih baru, kurang lebih muncul dua puluh tahun lalu. Tahun 2005, akhirnya saya dan beberapa teman merintis penerbitan. Kemudian tahun 2007 saya menerbitkan buku karya sastra berbahasa Lampung,” ucap Udo Z. Karzi, peraih Hadiah Sastra Rancagé pertama untuk sastra Lampung tahun 2008.

Dalam bidang media, Udo menuturkan, pernah ada majalah berbahasa Lampung yang hanya terbit beberapa edisi. Selain itu, surat kabar Lampung Post juga pernah membuka lembar suplemen berbahasa Lampung sebanyak setengah halaman yang terbit seminggu sekali. Selain minimnya media, minat literasi di kalangan penutur bahasa Lampung pun menjadi persoalan tersendiri. Penulis yang intens menulis dalam bahasa Lampung sekarang tidak lebih dari 10 orang.

“Selain persoalan minat baca, sebab lainnya karena kita penuturnya sedikit. Di Provinsi Lampung sendiri hanya sekitar 15 sampai 20 persen dari total jumlah penduduk. Tetapi meski demikian, sampai sekarang masih ada yang menggemari bacaan-bacaan atau buku berbahasa Lampung. Saya sendiri mencetak buku beberapa ratus eksemplar itu bisa terjual.”

Hal yang kurang lebih sama dengan sastra Lampung juga tengah dialami oleh sastra Madura. D. Zawawi Imron, juri Hadiah Sastra Rancagé untuk sastra Madura, menuturkan, media yang sekarang memuat karangan bahasa Madura hanya majalah Jokotolé yang dikeluarkan oleh Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, serta koran Radar Madura. Para penulis bahasa Madura sendiri, ucapnya, hanya ada sekitar 15 sampai 20 orang saja.

“Anak-anak Madura sekarang lebih tertarik menulis dalam bahasa Indonesia. Tetapi ada juga yang menulis dalam dua bahasa. Mat Toyu, yang menang Hadiah Sastra Rancagé sekarang, dia juga menulis dalam bahasa Indonesia.”

Dalam satu tahun, jumlah buku berbahasa Madura yang terbit hanya dua sampai tiga judul, dengan kisaran oplah 200 sampai 300 eksemplar. Karya-karya sastra Madura modern lebih banyak berupa cerpen dan puisi. Sedangkan novel, sesudah pasca kemerdekaan, bisa dibilang tidak ada sama sekali.[]

Lugina De, Alumnus Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah, UPI Bandung. Bergiat di Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS). Lebih banyak menulis dalam bahasa Sunda, serta dimuat di beberapa media massa Sunda. Bekerja sebagai guru bahasa daerah di Bandung.


Sumber: Buruan.com, 11 Februari 2020


Sabtu, 06 Juli 2019

Festival Ngupi Pai

Oleh Rahmatul Ummah



RIBUAN manusia memadati jalan utama Pekon Gunungterang, Kecamatan Airhitam, Lampung Barat. Para pengunjung tersebut sengaja datang untuk menikmati kopi Lampung Barat dalam sebuah Festival Ngupi Pai (Minum Kopi Dulu).

Pekon Gunungterang sendiri adalah basis penghasil kopi terbesar di Lampung, selain Pekon Rigisjaya yang ada di Lampung Barat, Provinsi Lampung.


Rabu, 27 Februari 2019

Buyback Buku

Oleh Muhammad Ma'ruf


INI agak ganjil. Tapi saya ingin mengungkapkannya. Insya Allah tujuannya baik, untuk mengapresiasi teman teman yang akan, baru, sedang dan telah menulis buku pertamanya. Saya niatnya itu.

Saya pada akhirnya harus menyerah, membeli buku bekas yang pernah saya tulis dan diterbitkan Hikmah-Mizan sembilan tahun lalu, Januari 2010. Ya aneh bukan, membeli buku sendiri karena saya memang tak punya fisiknya, satupun. Buku versi cetak sudah diskontinu, yang masih ada hanya versi digital di gramedia.com dan copy ilegal di beberapa olshop.


Jumat, 15 Desember 2017

Kumpulan Esai, Kumpulan Cinta Karina Lin

Oleh Yuli Nugrahani


KARINA Lin, kukenal beberapa tahun yang lalu. Entah di mana pertama kali ketemu, tapi yang yang jelas pasti urusan buku. Diskusi buku, bedah buku atau diskusi tema tertentu tentang Lampung. Yang kuingat aku bertemu dia di Fajar Agung, Lampung Post, Kampus Unila, hmmm... ya di tempat-tempat itu beberapa kali. Juga pernah bertemu di jalan. Sepertinya dia ini sering banget kulihat sedang berjalan kaki di seputaran Bandarlampung. Tubuhnya yang kerempeng mudah banget kukenali kalau sedang berjalan bahkan kalau aku dari arah belakangnya.

Karina Lin
Apa yang menarik darinya dalam perjumpaan-perjumpaan awal? Dia ini ceplas-ceplos, tidak basa-basi. Bukan hanya saat mengemukakan pendapat, tapi juga ketika dia punya keinginan-keinginan. Beberapa tahun lalu saat bertemu di Fakultas Hukum Unila untuk sebuah buku, dia kulihat sedang mojok makan bekalnya. Saat aku sapa (mungkin dia lupa), dia mengatakan sekilas tentang... hmmm mungkin tentang mengapa dia bawa bekal? Atau mungkin tentang dirinya yang harus makan sesekali? Aku lupa persisnya.


Kamis, 23 November 2017

Buku tanpa Editor Bukan Buku!

Oleh Udo Z Karzi


MEMBACA status Adam Yudhistira soal "dedek gemes" baru tadi, dan kemudian masuk ke artikel "Jalur Instan Itu Bernama Kedodolan" yang ia sodorkan; saya coba bikin oret-oretan ini.

***

Saya mulai dengan kabar gembira ini. Dikisahkan, Lampung Post menjadi koran berbahasa Indonesia terbaik kelima nasional. Untuk kesekian kalinya koran ini menjadi koran berbahasa Indonesia terbaik se-Sumatera. (Klik: Lampung Post Koran Berbahasa Indonesia Terbaik Kelima Nasional)

Jumat, 27 Mei 2016

Pengetahuan

Oleh Wandi Barboy
BUKU Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia (1966) karangan wartawati Amerika Serikat Cindy Adams, yang dialihbahasakan Major Abdul Bar Salim itu tertera sebaris kata dari Alkitab, tepatnya Surat Amsal Solaiman 16:22.

Dalam lembaran yang menguning seiring usia buku yang menua itu, Raja Sulaiman (Salomo, Kristen) menegaskan bahwa "Pengetahuan itu mendjadi suatu mata air selamat kepada orang jang mempunjai dia." Titik. Hanya sampai di situ.

Sabtu, 16 April 2016

Buku

Oleh Susilowati
MESKIPUN tidak banyak manusia  yang tertarik dengan buku, kekuatannya abadi dari masa ke masa. Karena buku bukan sekadar simbol intelektual dan kebijaksanaan seseorang, buku juga menjadi tolok ukur sebuah peradaban.

Kita tak bisa membayangkan sebuah peradaban tanpa buku sebagai sumber pengetahuan sekaligus penyambung dari satu peradaban ke peradaban lainnya. Jika sebuah peradaban dibangun tanpa buku, tentu menjadi karut-marut. Begitu pun jika sebuah generasi tanpa buku, apa yang terjadi?


Jumat, 21 Agustus 2015

Dari Mejaku Pagi Ini Memandang Rumah Berwarna Kunyit

Oleh Yuli Nugrahani


SANGAT mudah mengingat kapan aku menerima buku ini. Rabu, 19 Agustus 2015, di Balai Keratun, kompleks Kantor Gubernur Propinsi Lampung, dari tangan editornya langsung, Udo Z. Karzi. Aku menanti buku ini sudah agak lama, dan akhirnya kudapatkan. Bukan berarti isi buku ini hal yang baru sehingga aku sangat ingin mendapatkannya, karena aku sudah membaca sebagian artikel dalam Rumah Berwarna Kunyit (Polemik Kesenian, Kesenimanan dan Lembaga Seni (di) Lampung) ini di koran, tapi aku ingin menyimpannya sebagai salah satu dokumen di perpustakaanku.

Ya, seperti dikatakan Udo, buku ini berupa kumpulan dari artikel-artikel yang sudah dipublikasi di media masa. Dan secara umum aku bisa memahami situasinya kalau yang ditulis adalah tentang kesenian, kesenimanan dan lembaga seni yang ada di Lampung. Walau aku tidak terlibat banyak di situ, tentu saja aku paham juga sedikit-sedikit tentang hal ikwalnya. Karena aku juga membuat karya seni, aku seniman, dan sesekali aku terlibat dalam lembaga atau komunitas seni.

Aku menerima buku ini pada hari bersejarah bagi Dewan Kesenian Lampung (DKL), yaitu pengukuhan pengurusnya untuk masa jabatan 5 tahun mendatang. Aku sedang menunggu acara dimulai ketika Udo memberikannya padaku dalam sampul coklat bertulis namaku. Acaranya sendiri belum mulai juga walau aku sudah satu jam lebih duduk di situ. Undangan yang kuterima menyebutkan acara akan dimulai pada pukul 09.00. Aku datang di lokasi sekitar 7 menit sebelum jam 09.00. Dan aku terima buku biru ini sudah lewat 5 menit dari pukul 10.00! Dan acara belum ada tanda-tanda akan mulai!

Aku sengaja meniatkan datang setelah mendapat surat undangan warna biru sehari sebelumnya karena beberapa alasan. Pertama, aku ingin hadir untuk teman-temanku seniman yang sudah pasti akan masuk dalam jajaran kepengurusan. Kedua, aku penasaran ingin tahu apa yang terjadi pada DKL kedepan. Menurutku salah satu tanda yang bisa kutangkap adalah siapa yang ada di dalamnya. Dan saat aku terima undangan pengukuhan itu, tak ada informasi jelas yang kudapat tentang orang-orang yang akan masuk dalam jajaran pengurus yang akan dikukuhkan itu. Ketiga, aku sedang tak ada acara apapun di manapun. Jadi kupikir tak ada ruginya untuk hadir.

Pagi itu merasa antusias menyiapkan diri. Baju dominan biru sengaja kupakai dan bukan batik. Ya, sesuai dengan warna undangan biru. Dan ini pasti akan membedakan dengan sangat kontras dengan para calon pengurus yang akan dikukuhkan, yang disebutkan sudah menerima batik seragam. Sepatu kulit coklat kupakai. Mestinya lebih enak jika aku pakai sandal tumit tinggiku yang ringan. Tapi hari Minggu lalu aku terkilir. Kaki kiriku masih sakit jika digerakkan walau bengkaknya sudah mengempis. Dan aku berangkat dari kantor pukul 08.30. Aku memastikan tidak akan terlambat dan melewatkan hal-hal yang akan kutemui di sana.

Sayangnya, aku kecewa di satu jam pertama. Okey, harapanku memang tak bisa terpenuhi seluruhnya. Lihat saja, pertama, ya, aku bertemu teman-teman seniman. Sebagian memakai 'batik seragam' sebagian lain tidak. Jadi merekalah yang akan jadi pengurus, yang lain hadirin undangan seperti aku. Kedua, aku mendapati nama-nama pengurus. Soal ketua umum sudah terpilih Yustin Ridho Ficardo. Lalu ketua harian Heri Suliyanto. Hmmm.... Yang lain, aku baru tahu kemudian, lewat media online. Setelah acara selesai. Ketiga, ah,... aku tak bisa menunggu segitu lama untuk acara yang sudah bisa kutebak situasinya. Jadi pukul 10.30, aku bangkit. "Aku bosan. Harus jalan dulu." Kataku pada Imas Sobariah, yang duduk tak jauh dariku. Lalu aku ke tempat Kang Dana, "Selamat, kang. Aku tak tahan lagi menunggu." KD menyebut 2 menit, pasti mulai.

Aku tertawa dan pergi. 1,5 jam cukup bagiku. Tak ada pengaruhnya apa-apa jika kursiku kukosongkan. Jadi aku pulang, walau saat aku di teras Balai Keratun aku berpapasan dengan mobil yang membawa Ridho dan Yustin, Gubernur dan Ketua Umum DKL. Dalam hati aku menyapa mereka,"Sukses selalu, Pak dan Bu." Aku paham, sangat paham, acara-acara seperti ini biasa dimulai dengan sangat-sangat terlambat, molor jauh dari waktu yang tertulis. Sangat-sangat biasa. Dan karena untuk acara ini Ridho dan Yustin atau entah protokoler pemprov Lampung tak membuat gebrakan sehingga hal yang memalukan ini tidak terjadi, ya serta merta rasa pesimisku mencuat. Ya yang biasa-biasa itulah yang akan terjadi. Huft.

Di parkiran, bapak tukang parkir manggut-manggut sambil membantuku mengeluarkan motor. "Mereka ndak paham. Menunggu sampai selama ini buat ibu-ibu ya akan merepotkan. Belum lagi harus masak, ngurus anak. Acara belum mulai juga padahal sudah siang. Hati-hati ya bu." Hehehe... aku tertawa mendengar komentar si bapak. Komentar ini memberiku ilham sebuah resep masakan. Dan spontan membuatku rindu dapur.

Hmmm... akan ke mana DKL dengan jajaran pengurus seperti itu? Hmmm... hmmm... hmmm... Aku menulis soal harapan saja. Karena DKL sudah diisi oleh orang-orang yang dekat dengan pemerintahan, ketua umum istri Gubernur, lalu ketua harian kepala dinas pendidikan, aku berharap pemerintah Lampung semakin memberikan perhatian dan ruang yang nyata dan merata terhadap seni, seniman dan lembaga seni termasuk komunitas-komunitas seni di Lampung. Bukan untuk lamis-lamis lambe tampak gemebyar saja tapi sungguh-sungguh. Serius. Dan besok-besok, terlambatnya jangan keterlaluan deh. Ya 10 menit 15 menit bolehlah. Lampung sudah terlambat jauh, jangan lagi ditambah mengulur waktu yang merugikan begitu. Wis, itu saja deh.

Selebihnya, ya ya ya, Rumah Berwarna Kunyit membantuku melihat pandangan-pandangan para penulis tentang geliat seni di Lampung. Buku ini belum kubaca seluruhnya. Masih nunggu giliran memakai waktu yang kupunya. Sementara kusurukkan saja di ranselku, jika ada jeda aku bisa membacanya pelan-pelan di manapun aku berada, bercampur dengan dua buku yang sedang kubaca juga pelan-pelan Pagi Lalu Cinta-nya Isbedy Stiawan dan Harakah Haru-nya Iswadi Pratama, serta sebuah manuskrip buku puisiku yang sedang kuedit.

Dan walau aku tidak jadi ikut hadir dalam acara pengukuhan (maafkanlah, aku mah gini orangnya, tak sabaran.) aku mengucapkan : Proficiat, pengurus DKL yang baru. Selamat bekerja. Seni dan seniman tak selalu butuh rumah karena udara dan mataharilah sumber utama inspirasi karya. Jadi mungkin akan bisa dihitung siapa yang akan bertandang atau diundang ke rumah. Tapi para pengurus rumah, semestinya tak melulu di dalam rumah, tapi membuka pintu jendela membersihkannya setiap pagi, merapikannya setiap kali hingga pantas disebut sebagai rumah, termasuk dengan taman dan halaman yang indah. Dan jalan-jalan di luar rumah, sekitar rumah atau sedikit jauh dari rumah akan baik juga untuk kesehatan. Jadi, lakukanlah kerja-kerja yang diperlukan itu. Sekali lagi, proficiat. Selamat.


diambil dari yulinugrahani.blogspot.com, 21 Agustus 2015

Selasa, 07 Januari 2014

Tumi Mit Kota: Sastra, Kegembiraan, dan Penguasa

Oleh Iman Silahi

BILA Hardi Hamzah di harian ini 19 Desember lalu menganalisis pernik-pernik cerpen Udo Z. Karzi dan Elly Darmawanti berjudul Tumi Mit Kota dan Seterusnya secara esensial, penataan pemahamannya lebih pada perlengkapan cerita yang dikisahkan dalam cerita pendek berbahasa Lampung; dalam tulisan ini, penulis sedikit berbeda dengan Hardi dalam konteks esensi. 

Jika Hardi mengatakan kosakata terpenggal sebagai metamorfosis bahasa yang membuat buku cerpen berjudul Tumi Mit Kota Kumpulan Cerita Buntak itu menjadi indah, penulis justru melihatnya secara semantik dalam pemahaman universalisme kesusasteraan daerah (dalam hal ini daerah Lampung).

Dari kumpulan cerita pendek itu, Udo Z. Karzi dan Elly Darmawanti sesungguhnya ingin memantapkan kekuatan bahasa Lampung yang lokalis. Dengan kata lain, melalui cerita pendek itu, Udo ingin berbicara bahasa Lampung itu banyak tebersit bahasa yang sederhana, tetapi bermakna, misalnya, di hlm. 47-51 yang bersubjudul Tebinta Nyak di Matamu.

Dalam cerita berjudul Aisah hlm. 3-7 yang ditulis oleh Elly Darmawanti, juga diproyeksikan suatu bahasa, yang menurut penulis kurang naratif, justru cenderung ingin memaksakan agar kita semua memahami bahasa Lampung, ada semacam kaidah paksaan, walaupun mungkin pula memaksakan ilmu itu justru baik adanya.

Ketika cerita pendek mampu melahirkan bahasa yang pembacanya dituntut memahami, inilah sesungguhnya cerpen karya dua penulis Lampung ini, dapat dilihat pada pemaparan jak penerbit. Di situ dipertegas kekuatan pisau analisis seorang Udo Z. Karzi dan Elly Darmawanti, lebih sebagai cerita bahasa Lampung yang menyambungkan estetika berkesusasteraan.

Kesusasteraan, inilah incaran setiap penulis fiksi, novel, cerpen, dan yang lainnya. Namun, kesusasteraan apa? Ini sesungguhnya yang harus dipertanyakan Bung Hardi Hamzah, hal mana penulis tidak temukan dalam opini Hardi tersebut. Bagi suatu cerita pendek, kesusasteraan tidak lain dan tidak bukan menyangkut kegembiraan pembaca sastra dalam bentuk apa pun. Kegembiraan inilah yang sering diharapkan oleh pembaca atau dalam dimensi sastra, lebih tepatnya keteduhan dan kesenangan.

Rasa dan estetika tersebut di ataslah yang penulis rasakan, betapa kumpulan cerita pendek Tumi Mit Kota mengandung makna yang longgar dan luas bagi kelampungan kita. Pernyataan atau pertanyaannya kemudian, mengapa deskripsi dalam kumpulan cerita pendek itu tidak berbahasa lewat tokoh yang satu dengan tokoh yang lain, dalam arti ada semangat dialogis yang dihidupkan dalam cerita bahasa daerah.

Kalaupun ingin dinetralisasi minimalnya semangat diaologis dalam buku tersebut, penulis dapat mengerti karena mentransfer fiksi dalam bahasa daerah yang notabene di tempatnya sendiri secara universal tidak digunakan sehingga keterpautan estetika dengan kesusasteraan tidak begitu terasa. Sebab, ketidakmampuan kita memaknai bahasa Lampung secara esensial. Artinya, kosakata bahasa Lampung hanya dapat dirasakan indah bila penulis cerita mampu menghubungkan antara pikiran fiktif dan realitas keseharian dalam rangkaian cerita, apalagi ini cerita pendek.

Penulis, lebih menarik membandingkannya dengan tulisan pendek yang masih relevan, seperti karya-karya cerpen Putu Wijaya. Lewat judul cerpennya yang juga pendek-pendek, bila Putu menangkap sinyal kesusasteraan lebih mendominasi realitas masyarakat ketimbang khayal, inilah yang kemudian bagus ceritanya, tetapi tidak memunculkan estetika sastra. Inilah titik pembeda yang menonjol antara Putu Wijaya dan Udo Z. Karzi serta Elly Darmawanti, tentu saja bila kita setidaknya telah membaca sedikitnya dua kali cerita pendek ini.

Dalam cakupan yang lebih luas, penulis sangat sepakat kepada Bung Hardi Hamzah yang menitikberatkan, kemajuan kesusasteraan, bahkan kebudayaan Lampung harus dimengerti secara baik oleh penguasa. Bila tidak, sebanyak apa pun kesusasteraan Lampung yang kita rindukan bersama akan sia-sia saja. Cobalah pemerintah terkait mulai menyadari, apa yang dikatakan Bang Udin atau Kiay Oedin tentang Lampungku Bumiku, Lampungku Jiwaku.

Apabila banyak di antara seniman sepakat, kepedulian pemerintah sangat minimal dalam konteks apresiasi, tentu cerpen berjudul Tumi Mit Kota ini penulis anggap sebagai penggugah, baik penggugah untuk seniman maupun pencinta Lampung, apalagi bagi para penguasa yang berkompeten di bidangnya. n

Iman Silahi, Alumnus Ilmu Pemerintahan FISIP Unila

Sumber: Lampung Post, Selasa, 7 Januari 2013

Kamis, 19 Desember 2013

Tumi Mit Kota dan Seterusnya

Oleh Hardi Hamzah


KEHADIRAN sebuah cerita pendek, biasanya berpangkal tolak dari narasi yang digali dari kebudayaan lokal, dengan sekuat-kuatnya menyusun kosakata agar yang membacanya bisa merasakan, buku juga bisa empuk, renyah, dan enak dibaca, meskipun dalam bahasa daerah. Itulah sebabnya, cerpen acap bereksistensi fiksi realitas.

Fiksi realitas dimaksudkan untuk menggambarkan sentuhan kesenyawaan antara pembaca dan pengarangnya. Tentu akan lebih menarik lagi apabila sentuhan realitas itu diangkat dari kisah nyata. Begitulah agaknya Zulkarnain Zubairi atau yang lebih akrab dengan Udo Z. Karzi menampilkan cerpen ini ke publik bersama rekannya Elly Dharmawanti berjudul Tumi Mit Kota, Kumpulan Cerita Buntak.

Buku setebal 74 halaman terbitan Pustaka Labrak 2013 ini adalah buku cerita bersambung (cerbung) kedua setelah Cerita-cerita jak Bandar Negeri Semuong karya Asarpin Aslami (2009). Selain kembali mengisi khazanah kesusasteraan Lampung, Udo dan rekannya memproyeksikan suatu persenyawaan ketokohan Tuminingsih (Tumi). Dengan bahasa yang naratif lewat realitas eksistensi fiktif-realitas tadi. Ada semacam kesamaan semangat ketika kita membaca buku tebalnya Sutan Takdir Alisyahbana, Grotta Azura, atau trilogi Ronggeng Dukuh Paruk-nya Ahmad Tohari.

Kendati harap dicatat deskripsi itu tidak terhalusinasi secara sigap, selain karena setingnya yang berbeda, dialog dalam nuansa renungan seorang Udo Z. Karzi dan Elly Dharmawanti telah melahirkan diskursus baru bagi horison kelampungan dalam bentuk cerita pendek. Ya, namanya juga cerita pendek. Pendek ceritanya, tetapi sarat dengan hakikat hidup bagi upaya menguatkan semangat kultural edukatif dalam koridor kesusasteraan Lampung khususnya.

Artinya, pola dasar yang dibangun dalam buku berjudul Tumi Mit Kota ini, telah mencoba menggarap kreativitas umum agar setidaknya kita tidak merasa lelah, apalagi cuek terhadap kesusasteraan Lampung. Pada titik ini, kita disadarkan tidak mudah memperkaya nalar dalam kosakata Lampung secara dinamis. Inilah hidup kesenyawaan yang sedapat-dapatnya menggoda batin kita untuk bereaksi keras, siapa mau mengolah kata untuk memaksakan diri merajut sintesis dari daerah yang multibahasa ini.

Itulah kemudian, bila kita tengok satu persatu, merenda narasi tidak semudah yang disangka bila taplak meja kesusasteraannya penuh dengan kronik penggal-penggal bahasa yang sukar dirajut untuk utuh. Mari kita tengok, semisal pada halaman 57—59 yang bertitel Cengkelang. Kekuatan bahasa lebih dirasionalisasikan pada gugusan yang terpencar, meskipun ini mengingatkan kita pada premis yang diintrodusi Karl May lewat Wineteou sekian abad lampau.

Spektrum berikutnya yang patut diaktualisasikan adalah kesadaran untuk Udo Z. Karzi menggelindingkan lompatan bahasa, yang membawa kita secara strategis mampu merefleksikan cerpen ini dengan nuansa, bahwa bahasa Lampung itu tidak mudah. Ketika nalar kita didinamisasi oleh penulisnya pada halaman 61—66 yang bertutur tentang  Di Simpang Renglaya. Di Simpang Ranglaya yang berarti di simpang jalan terpaut refleksi dramaturgi yang berani, walaupun nyeleneh. Pun, anehnya nyeleneh itu menjadi term-term tersendiri atas nama perspektif romantisme.

Oleh karena itu, bila premis-premis cerita pendek yang berbahasa Lampung ini diaktualisasikan dan disosialisasikan dalam idiom yang penataan kosakata bahasanya lebih ngepop, personifikasi sosok yang akan ditonjolkan, dus akan memasuki wilayah pemikiran pembaca. Dalam konteks yang lebih luas, Udo Z. Karzi dan Elly Dharmawanti dalam cerpen ini kiranya akan membuka peluang agar jarak antara tokoh personal menjadi bagian dari semangat inpersonal (baca: pembaca buku ini).

Atmosfir apa yang kemudian akan kita gali dari cerpen yang terbilang pendek ini, mungkin sekali atmosfir itu dapat dibaca dari kelonggaran penulisnya untuk memberi peluang agar kita mampu membuka wilayah transformasi positif, bahasa Lampung bila telah masuk di wilayah cerita pendek, dus bisa lebih mudah dipahami, tanpa harus mengernyitkan dahi.

Ini karena cerita pendek yang kata penulisnya adalah kisah nyata, benar-benar mampu memetamorfosiskan antara kosakata dalam diskursus baru kesusasteraan populer, teristimewa bila kita kaitkan dengan betapa sedikitnya cerita pendek berbahasa Lampung yang notabene telah terampas oleh liberilasasi sastra dalam konteks deviasi (penyimpangan) semantik.

Lalu, mau tidak mau, seyogianya kita acungkan dulu jari telunjuk untuk Udo Z. Karzi dkk. yang selalu menggawangi tiang goal kelampungan dengan tidak jenuh-jenuhnya, sesudah itu barulah dua jempol kita acungkan kalau interesant kelampungan ini terus-menerus digaulinya secara lebih baik, melalui kekayaan khazanah kebudayaan secara sustainable.

Teruskan perjuanganmu Udo, sampai kita sebagai orang Lampung mampu tampil dalam bentuknya yang utuh dan diperhitungkan di tingkat nasional, regional dan internasional, meskipun kita selalu dihadapkan oleh problematika hegemoni kekuasaan yang cuek dan hanya menjadikan budaya Lampung sebagai instrumen, yang terasa nyeri di atas prospek yang tidak pernah dipetakan oleh penguasa di daerah ini. n

Hardi Hamzah, Peneliti Madya Mahar Indonesia Foundation


Sumber: Lampung Post, Kamis, 19 Desember 2013

Sabtu, 07 Desember 2013

Ahmad Syafei Pujangga Lambar

Oleh Iwan Nurdaya-Djafar


Ahmad Syafei
DALAM Festival Bahasa dan Sastra yang diselenggarakan SMAN 1 Liwa di aula sekolah tersebut, Jumat (22/11), Udo Z. Karzi membawakan materi bertema Jejak Literasi Liwa. Sejauh yang terbetik dalam berita bertajuk Siswa Lambar Bisa Suburkan Tradisi Literer yang dimuat harian ini (25/11), Udo mengusut tradisi literer di Lampung Barat yang sudah dimulai sejak abad ke-8.

Selain itu, Udo menyebut sejumlah penulis, baik yang berasal dari Lampung Barat umumnya dan Liwa khususnya maupun penulis lain yang menulis tentang Lampung Barat semisal Sutan Takdir Alisjahbana lewat novelnya Layar Terkembang (1936) dan J. Patullo yang menulis laporan perjalanan ke Danau Ranau pada 1820.

Para penulis asal Lambar yang disebut Udo, antara lain Haji Sulaiman Rasyid bin Lasa, Rais Latif, M. Harya Ramdhoni, Arief Mahya, Sazli Rais, Lincoln Arsyad, Imron Nasri, Z.A. Mathikha Dewa, Udo Z. Karzi, dan Fitri Yani.

Begitupun pada epigram Liwa-Krui dalam rubrik Nuansa di harian ini (25/11), Udo hanya mengutip jejak literer tentang betapa eksotiknya jalan yang menghubungkan Liwa dan Krui yang termaktub pada halaman 41 novel Layar Terkembang St. Takdir Alisjahbana.

Dari senarai nama yang disebutkan tadi, ada satu nama yang justru tidak disebutkan Udo, yaitu Ahmad Syafei. Hemat saya, beliau pantas dicatat sebagai pujangga Lampung Barat. Beliau pernah menjadi Pesirah Belunguh Kenali pada zaman Belanda sewaktu terjadi gempa besar di Liwa pada 1933.

Peristiwa bencana alam ini kemudian dituangkannya dalam bentuk puisi Lampung wayak bertitel Kukuk Kedok 1933 (Gempa Besar 1933) sepanjang 137 bait yang ditulisnya 32 tahun kemudian dan sebagian daripadanya pernah disiarkan Lampung Post pada 1986. Syafei pernah pula bertugas sebagai tentara pada masa kemerdekaan.

Selanjutnya, menjadi pegawai negeri sipil yang bertugas di Kotabumi dan Metro. Nama lengkapnya Ahmad Syafei gelar Sutan Ratu Pekulun. Beliau wafat pada 1981 dan dikebumikan di Kenali, tanah kelahirannya.

Karya sastranya yang lain berupa wayak sepanjang 65 bait, hahiwang, dan mengoleksi 51 pepatah Lampung. Bakat lainnya adalah pandai membuat nyanyian Lampung Belalau bergaya populer, paling tidak telah menciptakan sebanyak 33 nyanyian. Hobinya yang lain adalah fotografi, antara lain pernah memotret Gunung Bata di Suwoh sebelum gunung tersebut meletus dan karenanya memiliki nilai historis dan dokumental.

Kukuk Kedok 1933

Kukuk Kedok 1933 (Gempa Besar 1933) adalah syair panjang dalam bahasa Lampung berdialek A. Syair terdiri atas 137 bait ini isinya mengisahkan pengalamannya semasa gempa yang melanda kampung halamannya, Kenali, Lampung Barat, pada 25 Juni 1933. Inilah gempa pertama yang meluluhlantakkan Lampung Barat, yang kemudian terulang kembali pada 16 Februari 1994.

Syair yang tersusun atas empat baris pada tiap baitnya dan bersajak a-b-a-b ini tidak ditulis segera setelah peristiwa gempa itu terjadi, melainkan sekitar 32 tahun setelah peristiwa mengerikan itu berlangsung. Persisnya pada 3 April 1965 dan diketik ulang pada 1970-an, seperti dituturkan putra tertuanya M. Yusuf Effendie.

Tidak jelas apakah titimangsa 3 April itu mengisyaratkan syair sepanjang itu diubah hanya dalam tempo satu malam, atau mengisyaratkan tanggal diselesaikannya penulisan syair itu.

Yang jelas saat itu Ahmad Syafei bertugas pada Pemerintah Daerah Tingkat II Lampung Tengah di Metro. Syair ini ditemukan oleh putra tertuanya, M. Yusuf Effendi, 61 tahun, ketika membuka-buka arsip peninggalan orang tuanya selama dua hari pada Maret 1994.

M. Yusuf Effendie, yang berdomisili di Jalan Imam Bonjol No. 173 Bandar Lampung, itu tergerak untuk membuka-buka arsip itu disebabkan gempa bumi di tempat yang sama kembali terjadi pada 16 Februari 1994.

Ahmad Syafei rupanya menaruh perhatian besar terhadap peristiwa yang amat membekas dalam hidupnya itu?seperti dituturkan putra tertuanya?karena, selain merekamnya dalam bentuk karya sastra, dia pun mengabadikannya dalam wujud sejumlah potret.

Bahkan, sebagai seorang pesirah, dia pun turun langsung menolong para korban gempa sehingga mendapat penghargaan dari pemerintah kolonial Belanda ketika itu.

Kuku Kedok 1933 ditulis karena dorongan rasa rindunya akan kampung halaman. Dalam bait 1?13 yang berfungsi semacam pengantar, dituturkan inspirasi untuk menulis syair itu muncul ketika cuaca di Metro sangat gerah. Saat itu, sekitar pukul 21.00, ia duduk-duduk di bawah pohon ceri di halaman rumahnya.

Pada malam nan sunyi itu, sayup-sayup terdengar suara orang mengaji dari arah depan rumahnya dan tiga becak melintas. Dari momen-momen puitis serupa itulah terbetik kerinduan Ahmad Syafei akan kampung halamannya.

Demikianlah, demi melepaskan kerinduannya, dia tuliskan kenangan tentang kampung halamannya yang hancur terlanda gempa bumi, dan itu sekaligus berarti kesaksiannya atas peristiwa gempa besar 1933 itu. Sebuah kesaksian puitis!

Berikut kami kutip enam bait dari wayak sepanjang 137 bait itu beserta terjemahannya. Bait 13: Ngelebonkon jak lom dada/rasa susah nih hati/nyak nulis cerita/satemon nihan terjadi (Demi menghilangkan dari dada/rasa susah di hati/kutulis ini cerita/benar ini terjadi). Bait 15: Di tahun 33 di bulan Juni/kira-kira pukul lima/mawat ti sangka-sangka/menginjok unyin bumi (Di tahun 33 pada bulan Juni/kira-kira pukul lima pagi/tiada disangka-sangka/bergoyang seluruh bumi). Bait 16: Selagi manusia pedom/luluk sunyi ni/mawat ti sangka-sangka/menginjok unyin bumi (Senyampang manusia tidur/sedemikian sunyinya/tiada disangka-sangka/berguncang seluruh bumi).

Bait 17: Ya Allah ya Robanna/kukuk kedok kirani/minjak radu ticuba/tebanting di unggak resi (Ya Allah ya Rabbi/gempa kuat kiranya/mencoba bangkit dari tidur/terbanting ke tikar tapi). Bait 18: Dunia rasa gamba/rasa diungggak sekoci/ngaliwat Tanjung Cina/lebih gawoh hunjak ni (Dunia sepantun gamang/serasa di atas sampan/yang mengarungi Tanjung China/dan gempa lebih dahsyat lagi). Bait 19: Nyak rangka niat beranda/melegoh haga mati/mak mudah nyak sangka/gegoh lapah di ruwi (Diri merangkak berniat ke beranda/perlahan seolah mau mati/tak semudah yang kusangka/bak jalan di atas duri).

Nyanyian

Dari 33 nyanyian yang diubahnya dalam bahasa Lampung berdialek A, salah satunya bertutur tentang kerinduan akan kampung halamannya, yaitu Kenali, yang dijadikan judul lagu yang diciptakannya di Kotabumi, 21 September 1973. Berikut kami kutip lirik lagu itu beserta terjemahannya.

Kenali senangun mak keliru/di isan pekonku/rang ni hulun tuhaku/kenali? lajuan kak jak baru/pekon mebalak telu/hinno Kenali ku//hawa segar mengison/kebun kopi melamon/muli-muli buhilok/ngebatok hati lahok/merisok nyak kundur mengan/kak Kenali dilom ingo'an (Kenali memang tidak keliru/di sana kampung halamanku/tempat orang tuaku/Kenali terusan jalan baru/kampung besar tiga/itu Kenaliku//hawa segar nan dingin/kebun kopi yang banyak/gadis-gadis telanjang/membuat hati hancur/kerap hilang selera makanku/saat Kenali dalam ingatan).

Selain menulis puisi dan menggubah lagu, beliau juga pandai menggambar sketsa seperti terlihat pada halaman-halaman manuskripnya.

Demikianlah, Ahmad Syafei tak pelak adalah sosok seniman berbakat rangkap. Beliau adalah sastrawan, pengubah lagu, pelukis sketsa, sekaligus fotografer. Dengan kapasitas kesenimanan sedemikian ini, kiranya pantas dicatat dan beroleh tempat sebagai pujangga dari Lampung Barat.

Iwan Nurdaya-Djafar, Budayawan


Dimuat di Lampung Post, Sabtu, 7 Desember 2013

Jumat, 22 November 2013

Jejak Literasi Liwa

Oleh Udo Z. Karzi

Senja hari, ketika matahari telah terbenam penuh keindahan di balik gunung-gunung di sekeliling tasik itu, barulah ia berangkat ke Liwa. Malam sampailah ia di sana....

Keesokan harinya Yusuf pergi mengikuti Sukartono pergi ke Keroi. Jalan yang tiada putus-putus berkelok-kelok menurun menuju ke bawah, hutan yang hijau meliputi lurah dan tebing sepanjang jalan dan akhirnya pemandangan yang dahsyat ke arah lautan Samudra yang biru luas membentang …”


Liwa Kota Berbunga (foto: budhi marta utama)
ITULAH jejak literasi tentang keindahan Liwa (Lampung Barat, termasuk Pesisir Barat kini) dalam roman Layar Terkembang karya St. Takdir Alisyahbana (diterbitkan pertama kali oleh Balai Pustaka, 1936) yang tercantum di halaman 54.

Di halaman lain Layar Terkembang ini tertulis: “…telah sering ia memikir apakah sebabnya maka liburan ini lain rasanya dari sediakala. Dan di tengah keindahan alam di perjalanan ke Liwa dan ke Keroi, kegelisahan hatinya itu bertambah, seakan-akan oleh tamasya kepermainan dan kebesaran alam yang dilihatnya …” (Surat Maria kepada Yusuf dalam dalam Layar Terkembang)

Sebelum membahas lebih lanjut tentang jejak literasi Liwa, biar kelihatan ilmiah sedikit, perlu dibahas pengertian dari literasi.

Literasi

Secara sederhana, literasi berarti kemampuan membaca dan menulis atau melek aksara. Dalam konteks sekarang, literasi memiliki arti yang sangat luas. Literasi bisa berarti melek teknologi, politik, berpikiran kritis, dan peka terhadap lingkungan sekitar. Kirsch dan Jungeblut dalam buku Literacy: Profile of America’s Young Adult mendefinisikan literasi kontemporer sebagai kemampuan seseorang dalam menggunakan informasi tertulis atau cetak untuk mengembangkan pengetahuan sehingga mendatangkan manfaat bagi masyarakat. Lebih jauh, seorang baru bisa dikatakan literat jika ia sudah bisa memahami sesuatu karena membaca dan melakukan sesuatu berdasarkan pemahaman bacaannya.

Sekarang ini, generasi literat mutlak dibutuhkan agar bangsa kita bisa bangkit dari keterpurukan bahkan bersaing dan hidup sejajar dengan bangsa lain. Wagner (2000) menegaskan bahwa tingkat literasi yang rendah berkaitan erat dengan tingginya tingkat drop-out sekolah, kemiskinan, dan pengangguran. Ketiga kriteria tersebut adalah sebagian dari indikator rendahnya indeks pembangunan manusia. Menciptakan generasi literat merupakan jembatan menuju masyarakat makmur yang kritis dan peduli. Kritis terhadap segala informasi yang diterima sehingga tidak bereaksi secara emosional dan peduli terhadap lingkungan sekitar.

Untuk keperluan makalah ini saya perlu membatasi bahasan (1) mengenai informasi tertulis tentang Liwa, terutama karya sastra, baik dari penulis yang berasal dari Liwa maupun yang bukan dari Liwa; dan (2) tentang orang-orang Liwa, bisa lahir di Liwa, besar di Liwa atau ada keturunan Liwa yang menggeluti dunia leterer.

Tentang Liwa

Literatur yang lebih tua tentang Liwa adalah Catatan Perjalanan ke Danau Ranau di Pedalaman Krui yang ditulis J. Pattullo di tahun 1820 (ada di buku Malayan Miscellanies Vol II, terbitan Sumatran Mission Press, Bengkulu, 1822), yang diterjemahkan Yulizar Fadli dan dimuat di Jurnal Kebudayaan Akal Volume 1/Januari 2013 hlm. 28-34.

Perjalanan rombongan J. Pattulo dimulai dari Kroer (Krui) pada 19 September 1820, menginap di dusun Uluh. Sehari kemudian bermalam  di Weya Assat (Way Asat), lalu berjalan antara lain ke Pulau Pisang, Lumbok, Surabaya di Banding Ranau, Gunung Seminung, Sukau, Lewah (Liwa), dan kembali ke Krui. Kita kutipkan:

"Pagi hari tanggal 5, kami meninggalkan Sukau ke Lewah (Liwa) di mana kami sampai pada sore hari -- juga tak beruntung selama perjalanan hari ini karena tidak bisa menentukan perjalanan. Dewa Lewah menawarkan sesuatu yang tak berarti. Desa ini terletak sangat rendah dan iklimnya sangat dingin dan lembab....


Lewah diatur seorang Pangeran dari sebelas penasehat ang bekerjasama dengan Kerabat Terhormat. Budaya dan kebiasaan benar-benar sama dengan para penduduk di Lampung lainnya
."

Tulisan yang tidak menarik karena agaknya Pattulo kurang mahir memainkan pena dan tidak mampu menyerap keindahan tempat yang ia kunjungi. Walaupun demikian, tulisan ini penting mengingat minimnya literatur yang membicarakan Liwa (atau Lampung pada umumnya). Dalam catatannya ini, Pattulo membuat data populasi penduduk daerah Lewah yang terdiri dusun-dusun: Bumi Agung, Surabaya, Kasugihan, Paggar, Negeri, Perwatta, Banding, Waye Mengaku, Tanjung, Gedong, Sungie, dan Genting.

Beberapa
penyair menulis Liwa dalam sajak-sajak mereka. Saya menemukan sajak yang mengambil Liwa sebagai judul yang ditulis Fina Sato. Penyair kelahiran Subang, Jawa Barat, 16 Februari 1984 ini menulis sajak:

Liwa

kupagut dingin bukitbukit
dara yang merona
sejuk wajahmu bagai periperi hutan
tangis hujan merincik
di kotamu
membalut tubuhku dalam pesta sekura
kita menari, perempuanku!
meremang sepanjang tanjungkemala
kau perempuan hijau di punuk pesagi
tidakkah pertemuan kita
adalah sunyi?

ke barat,
kulumat perjalanan menuju krui
pelabuhan yang menjejak pulang dan pergi
kabut kembali meremang waktu
sepanjang bandar merindu
dan ikanikan tak henti bertanya
ke mana arah bidok cinta bermuara

di sini
orangorang pun akan bertanya padamu
danau ranau tempatmu merantau?
menyelami tiyuh kenangan
berkaca pada batubatu legam
pada sawahsawah basah
dan dendang burung di reranting pinang
lalu membasuh hitam rambutmu
di percikan kubuperahu?

kita luluh di kota tua ini
arus angin menggerus waktu
akhir usia di pucuk gunung
diantara uapacaraupacara adat
kita menari, perempuanku!
karena ikanikan terus bersenandung
sepanjang way
di jalanjalan
tepian hutan

bumi singgah, 2006

Keterangan:
bidok: bendungan-bendungan tempat ikan (Lampung)
tiyuh: kampung (Lampung)
way: sungai (Lampung)

Beberapa penyair juga menulis sajak dengan mengambil setting Liwa (Lampung Barat) di antaranya Iswadi Pratama, Isbedy Stiawan ZS, Komang Ira Puspita, dan Christian Heru Cahyo Saputro. Dari Lambar sendiri ada Fitri Yani, M. Harya Ramdhoni, dan Udo Z. Karzi. 

Novel 7 Manusia Harimau (terdiri dari 7 seri) karya Motinggo Busye  menceritakan legenda  yang hidup di Lampung Barat tentang manusia yang bisa menyerupai harimau. Barangkali ada kaitannya dengan Buay Nyerupa, salah satu Paksi Pak yang dikisahkan sebagai ahli menyamar dan meramu racun. Novel ini kemudian difilmkan dengan judul yang sama (1986), disutradarai Imam Tantowi dengan pemain Ray Sahetapy, Anneke Puteri, El Manik, dan 
Shinta Kartika Dewi. Sedangkan novel Perempuan Penunggang Harimau karya M. Harya Ramdhoni mengisahkan runtuhnya Kerajaan Sekala Brak di kaki Gunung Pesagi seiring dengan masuknya Islam ke wilayah ini. 

Untuk karya cerpen saya belum tahu cerpenis yang menggunakan Liwa, Lambar sebagai latar cerita.

Orang Liwa Menulis

Memang kalau hendak dibandingkan dengan Sumatera Barat, Lampung -- apatah lagi Liwa -- memang belum apa-apanya. Tapi, orang Liwa patut berbangga karena sesungguhnya dunia literasi di daerah ini telah lama hidup.  Kalau keberadaan Kerajaan Sekala Brak di kaki Gunung Pesagi, Liwa, dipercaya sebagai pewaris aksara (had) Lampung, bisa dikatakan tradisi literer di Lampung Barat sudah ada sejak abad ke-8. Buku 100 Tokoh Terkemuka Lampung yang diterbitkan Lampung Post (2008) menyebutkan beberapa nama yang lekat dengan literasi, baik sebagai akademisi, wartawan/penyiar/kolumnis, maupun sebagai sastrawan: Sulaiman Rasyid (1899-1976), Rais Latief (1900-1977), M. Arief Mahya (1926), Sazli Rais (1944),  Lincolin Arsyad (1958), dan Udo Z. Karzi (1970).

Adalah Haji Sulaiman Rasjid bin Lasa (1898-1976) yang menyusun buku fikih pertama di negeri ini. Fiqih Islam, terbit 1951, karangan pria kelahiran Pekon Tengah, Liwa, tahun 1898, menjadi buku wajib di perguruan tinggi dan menengah di Indonesia serta Malaysia, sampai sekarang. Pendidikannya: Sekolah Mualim, sekolah guru di Mesir dan Perguruan Tinggi Al-Azhar Kairo Mesir, Jurusan Takhasuhus Fiqh (Ilmu Hukum Islam) selesai tahun 1935. Tahun 1936 ia ditunjuk Belanda sebagai Ketua Penyelidik Hukum Agama di Lampung, lalu tahun 1937--1942 menjadi Pegawai Tinggi Agama pada Kantor Syambu dalam Zaman Pendudukan Jepang. Ia meninggal di Bandar Lampung, 26 Januari 1976.

Sejawat Sulaiman Rasyid, Rais Latief (1900-1977) juga menyusun terjemahan hadis sahih Muslim bersama dengan H. Abdul Razak (asal Kotabumi). Buku-buku tersebut merupakan cikal-bakal buku-buku agama berbahasa Indonesia karya anak bangsa kemudian hari. Buku tersebut sangat populer beredar dan dicetak berulang-ulang di Malaysia dan Singapura.

Sekitar 1962 setelah pensiun sebagai pegawai tinggi Departemen Agama, ketimbang mengajar di perguruan tinggi agama Islam di Jakarta, beliau memilih pulang ke Lampung. Di Lampung Rais kembali memimpin Sekolah Tsanawiah Muhammadiyah Pekon Tengah Sebarus. Sekolah ini sampai kelas IV. Karena tidak ada aliah di Liwa, para alumnusnya melanjutkan di kota-kota lain seperti Yogya. Dengan kualitas memadai, lulusan tsanawiah ini bisa diterima di kelas II aliah atau SMA di Yogya.
Rais tetap mengajar sampai berusia 70 tahun. Beliau wafat pada usia 77 tahun dan dikebumikan di Desa Sebarus Liwa di dekat tempatnya mengajar dan di tengah masyarakat yang begitu dicintainya.

Lalu, ada K.H. M. Arief Mahya
kelahiran Gedung Asin, Liwa, 6 Juni 1926 yang dikenal sebagai  pejuang dan ulama. Sejak 1 Juli 1979, M. Arief Mahya pensiun sebagai PNS setelah menjalani berbagai pekerjaan sebagai pendidik, juru dakwah, politikus, dan juga menulis. Meskipun pensiun, aktivitas pendidikan-dakwah-politik-nya tak mengendur. Arief pun mengisi hari-harinya dengan mengajar mengaji anak-anak sekitar rumah. Ia juga rutin mengisi ceramah agama dan terus menulis berbagai artikel di media massa lokal.

Anak Rais Latief, Sazli Rais kelahiran Sebarus, Liwa, Lampung Barat, 14 Desember 1944 juga lekat dengan dunia pers yang tidak bisa tidak bersentuhan dengan tulis menulis. Suaranya berat dan mengalun empuk mengetuk ruang-ruang keluarga Indonesia pada era 1970-80-an. Sebagai pembawa berita di TVRI dan RRI, nama, wajah, dan suara Sazli Rais populer sekali, menembus gunung-gemunung di pedalaman Lampung Barat, tanah kelahirannya.

Masih dari Sebarus, Lincolin Arsyad (lahir di Liwa, 21 Juli 1958) Lincolin Arsyad mampu menembus jajaran ekonom elite di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, gudangnya ekonom di Tanah Air bersama Universitas Indonesia. Ia dilantik sebagai dekan FEB-UGM pada 14 November 2007. Dengan demikian, Lincolin-lah dekan pertama di lingkungan UGM yang berasal dari Lampung. Prestasi Lincolin sangat gemilang karena kompetisi dosen di UGM dikenal sangat terstruktur dan ketat, terlebih untuk fakultas ekonomi. Ia menulis beberapa textbook ilmu ekonomi.

Generasi selanjutnya mulai lahir beberapa nama yang menggeluti dunia kewartawanan dan kesusastraan: Imron Nasri (1965), redaktur Majalah Suara Muhammadiyah Yogyakarta, yang banyak menulis dan mengeditori buku-buku nonfiksi, ZA Mathika Dewa (1970-1998) melahirkan
buku puisi Pencarian (1995); Udo Z. Karzi (1970) menulis buku  Momentum (kumpulan sajak, 2002), Mak Dawah Mak Dibingi (kumpulan sajak, 2007), dan Mamak Kenut: Orang Lampung Punya Celoteh (2012).  Lalu, Muhammad Harya Ramdhoni (1981) menulis novel sejarah Perempuan Penunggang Harimau (2011) dan kumpulan cerpen Kitab Hikayat Orang-orang yang Berjalan di Atas Air (2012). Dan yang terkini Fitri Yani (lahir 1986) yang melahirkan buku puisi Dermaga Tak Bernama (bahasa Indonesia, 2010) dan Suluh (bahasa Lampung, 2013).

Penutup
Terlihat, alam dan manusia Liwa sangat menarik untuk ditulis dalam bentuk apa pun: puisi, cerpen, novel, catatan perjalanan, feature, atau studi.
Lalu para para penulis dari Liwa sendiri telah pula mengembangkan tradisi literer ini di berbagai bidang kepenulisan.

Ini tentu menjadi motivasi besar bagi pelajar se-Lampung Barat.  Jadi, apa lagi?


Bandar Lampung, 17 November 2013



----------------------------
* Makalah disajikan untuk Apresiasi Sastra dalam Festival Bahasa dan Sastra VII yang diselenggarakan SMAN 1 Liwa, Lampung Barat, 22 November 2013

** Udo Z. Karzi, menulis buku antara lain Momentum (kumpulan sajak, 2002), Mak Dawah Mak Dibingi (kumpulan sajak, 2007), Mamak Kenut: Orang Lampung Punya Celoteh (2012), Feodalisme Modern: Wacana Kritis tentang Lampung dan Kelampungan (2013), dan Tumi Mit Kota (kumpulan cerbun bersama Elly Dharmawanti, 2013).