Selasa, 24 Desember 2013

Tumi Mit Kota Diminati Kalangan Muda

Oleh Wandi Barboy

BANDAR LAMPUNG (Lampost.co): Buku cerita buntak (cerpen berbahasa Lampung) Tumi Mit Kota yang ditulis Udo Z Karzi bersama Elly Dharmawanti kembali diminati kalangan muda dan komunitas sosial media lainnya.

Diskusi buku yang diterbitkan oleh Pustaka Labrak kembali digelar Lapa Kopi Lampung di pelataran Gerai Esia, Jalan Ahmad Yani, Tanjungkarang Pusat, Bandar Lampung, Minggu (22/12). Acara dengan suguhan kopi Robusta Liwa itu menarik sejumlah pengunjung yang terdiri dari lintas etnis.

Acara yang dimoderatori Rifky Indrawan, aktivis Jaringan Radio Komunitas Lampung (JRKL) itu berlangsung hangat dan terbuka bagi siapa saja. Saat hujan mulai turun, acara pun berpindah ke dalam gerai esia.

Udo mengungkapkan cerita Tumi Mit Kota (Tumi Pergi ke Kota) adalah kisah pribadi Udo saat menjalani kuliah kerja nyata (KKN) di Kecamatan Pesisir Selatan, Pesisir Barat. Tuminingsih, nama lengkapnya.

Menurut Udo, Tumi adalah seorang wanita Jawa yang mencintai budaya Lampung. Walau pun dia Jawa, rasa kecintaannya terhadap budaya Lampung tidak diragukan lagi. Atas dasar itulah, Udo menuliskan cerita Tumi Mit Kota. Tumi sendiri, bagi Udo, selain diangkat dari sosok Tuminingsih, adalah juga merupakan suku asli Lampung di wilayah pesisir.

Udo sendiri memuat tujuh cerbun dalam buku ini. Sementara, Elly membuat enam cerpen. Menurut Udo dan Elly, dari buku ini mereka ingin mengakrabkan dirinya dengan pembaca Lampung yang berbeda-beda. Karena itu, bahasa Lampung yang berbeda antara Udo maupun Elly tetap dipertahankan apa adanya sesuai lisan penuturnya. "Tumi itu sekilas identik dengan Jawa. Namun, sangat melampung. Karena itu, mengapa orang Lampung malu dengan budayanya sendiri," kata Elly.

Elly Dharmawanti juga merespon pelajar di Liwa yang mempertanyakan mengapa mereka berdua mau menerbitkan buku berbahasa Lampung, apalagi cerpen yang terbatas segmentasinya. Menurut Elly, dari buku ini dia berharap orang Lampung harus berani mengungkapkan apa yang memang menjadi bahasa penutur masing-masing. n

Sumber: Lampost.co, Rabu, 24 Desember 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar