Minggu, 17 Januari 2016

Frieda Amran

LAHIR di Palembang, 21 Agustus 1959. Ia menyelesaikan studi di jurusan Antropologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada 1983, lalu Rijksuniversiteit Leiden, Belanda. Setelah kembali ke Indonesia dan mengajar di almamaternya selama dua tahun, ia menikah dan menetap di Negeri Belanda bersama suami dan empat orang anaknya—sampai sekarang.

Walau lama tinggal di negeri orang, kecintaan dan perhatian pada Indonesia dan tanah kelahirannya tidak memudar. Ia sempat mengajar bahasa Indonesia dan akulturasi budaya di kota Delft dan Leiden; dan, selama beberapa tahun, ia menjadi Sekretaris Forum Studi Wanita Indonesia (Werkgroep Indonesische Vrouwen Studies) di Universitas Leiden. 


Sejak tahun 2010, Frieda Amran mulai mengolah tulisan-tulisan berbahasa Belanda dan mengasuh rubrik ‘Palembang Tempo Doeloe,’ harian Berita Pagi, Palembang. Ia menjadi penulis tetap rubrik ‘Wisata Kota Toea,’ harian Warta Kota, Jakarta sampai rubrik itu ditutup pada 2013. Mulai Januari 2014, ia mengasuh rubrik ‘Lampung Tumbai’ di harian Lampung Post. 

Selain menyukai sejarah dan tergila-gila membaca buku-buku tua mengenai manusia (terutama yang tinggal di Sumatera bagian selatan), sejarah dan kebudayaannya, Frieda gemar menulis puisi dan melukis. 

Buku-bukunya, antara lain: Corat-coret Koentjaraningrat (1997), Pangeran Katak & Sang Putri (kumpulan sajak bersama Hendry Ch Bangun dan Wahyu Wibowo, 2011),  Cerita Rakyat Batanghari Sembilan: Lahat (bersama Soufie Retorika, 2013), Batavia: Kisah Kapten Woodes Rogers & Dr. Strehler (2014), Sembilan Ribu Hari (kumpulan sajak, 2014). 

Bukunya yang diterbitkan Pustaka LaBRAK:
~ Mencari Jejak Masa Lalu Lampung: Lampung Tumbai 2014 (2016)
~ Catatan Lapangan Antropolog (editor, 2017)
~ Meniti Jejak Tumbai di Lampung: Zollinger, Kohler dan PJ Veth--Lampung Tumbai 2015 (2017)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar