Rabu, 17 Februari 2016

Balada Kutukan dari Lampung Tempo Doeloe

Oleh Endri Kalianda


Mencari Jejak Masa Lalu Lampung: Lampung Tumbai 2014. Frieda Amran. Bandar Lampng: Pustaka LaBRAK, 2016. xx + 208 hlm.
Masih lebih lamakah kami kau tindas?
Karena uang hatimu telah menjadi kebal,
tuli terhadap tuntutan kedadilan dan akal,
menantang hati lembut bergelora kekerasan.

BAIT pertama pada sajak Balada Kutukan yang berjudul Hari Terakhir Orang Belanda di Pulau Jawa itu terjemahan Chairil Anwar dan dimuat dalam buku HB. Jassin.

Sajak yang menjadi penanda, ada seorang penjajah yang mengakui, darahnya mendidih dan memberontak karena menyaksikan penderitaan rakyat yang disaksikan, ditindas oleh bangsanya.


Sicco Ernst Willem Roorda van Eysinga atau kemudian lebih dikenal dengan nama Sicco atau SEW Roorda van Eysinga yang ternyata sehaluan dengan Multatuli atau Max Havelaar.

Apa bedanya Philippus Pieter (PP) Roorda van Eysinga (1796-1856) dengan SEW Roorda van Eysinga (1825-1887). Pertanyaan itu seketika terjawab dalam buku Mencari Jejak Masa Lalu Lampung oleh Frieda Amran ketika sampai di halaman 65.

Disebutkan, hubungan Sicco dengan Philippus adalah saudara tiri. Sicco disebutkan, pernah jadi pejabat  pembantu redaksi surat kabar Bataviaasch Handelsblad. Menulis dengan nama samaran, Sentot. Sementara Philippus dikenal sebagai sarjana dan tentara yang kemudian ketika bertugas di departemen urusan pribumi menyebut, sikapnya sering memaklumi jika ada orang-orang pribumi yang memberontak. "Maka dengan rasa menyesal harus mengakui, kesalahan biasanya ada di pihak atasan, bukan di pihak bawahan."

Philippus juga pernah diangkat sebagai kepala percetakan negara. Beberapa karyanya, terbit 1824 dan masih bisa dilihat di http://babel.hathitrust.org/cgi/pt?id=mdp.39015017724603;view=1up;seq=1
Pada buku itu ada aksara arab bertulis, Kitab Lughat.  Philippus juga disebut sebagai seorang "Peminat Bahasa."  Sampai kemudian membuat kamus selain Melayu-Belanda, juga bisa dilihat Belanda-Jawa. Pada laman www(dot)babel.hathitrust(dot)org itu, terlihat tanggal duplikasinya, 24 Februari 1857.

Apa kaitannya antara Balada Kutukan, jika menurut Frieda Amran, terjemahan Vloekzang adalah "Senandung Kutukan" karya Sicco atau Sentot dengan tulisan di bagian buku Lampung Tumbai karya Philippus yang hanya ada 4 judul itu? Salah satunya diberi judul entah oleh editor atau penerjemah; Lingkaran Setan di Lampung.

Di sini ada kalimat sensitif dan bahan tertawaan sehingga seorang profesor di Unila pernah mendapat serangan perundungan, beberapa tahun lalu, lantaran secara terbuka menyatakan dalam seminar. Orang Lampung itu kenapa jumlahnya sedikit sebab banyak yang di makan harimau.  Keterangan banyak orang Lampung dimakan harimau juga ternyata, diungkap JHT pada halaman 39 dan 73.

Ternyata dengan membaca buku Lampung Tumbai yang dieditori oleh Udo Z Karzi, kita menemukan jawaban yang  ilmiah. Tentu bukan karena hanya dimakan harimau dan buaya yang ditulis orang Belanda dan berhasil diterjemahkan secara apik oleh Frieda Amran. Akan tetapi, faktor sulitnya pernikahan dan tantangan untuk mendapat jodoh bagi muli meranai, misalnya mahar yang tinggi untuk menikahi muli dan sekayau untuk meranai, akhirnya membuat banyak anak  muda memilih pasangan bukan dari suku asli Lampung dan pada tahap tertentu, menurut sudut pandang orang Belanda, sulit dapat jodoh bagi kaum perempuannya.

Apakah kemudian catatan Sicco yang mendasari lahirnya Balada Kutukan tentang banyaknya orang mati karena busung lapar, paceklik yang melanda penduduk yang dikepung rawa-rawa gelagah, sehingga jumlah kuburannya lebih banyak dibanding jumlah penduduk yang hidup itu juga terkait dengan Lampung? Meski dalam dokumen disebut Grobokan pada 1849. Apa yang membedakan buku Mencari Jejak Masa Lalu Lampung itu dibanding dengan Yogyakarta Tempo Doeloe, misalnya.

Ketika membaca buku ini, penulis merasakan sederet pertanyaan ikutan yang perlu dijawab. Dan tentu, tulisan ini bukan untuk menjawabnya. Melainkan sekadar membuat sederet pertanyaan yang biarkan tugas Bu Frieda dan Udo Z Karzi yang menjawabnya atau syukur-syukur ada pihak pemerintah daerah yang benar-benar serius mencari jawabannya.

Namun demikian, beberapa pertanyaan tentang antropologi dan bagaimana adat istiadat Lampung bisa ditemukan jawabannya di Lampung Tumbai ketika kita sabar membacanya. Hanya, buku ini juga terkadang sangat mengesalkan. Pada halaman 61 misalnya, kita disodori sederet pertanyaan yang juga tak bisa dijawab. Siapa yang memisahkan Banten dengan Lampung? Dengan ketus, Bu Frieda menulis. "Adakah pembaca yang tahu?"

Kepala yang penuh pertanyaan, bahkan ketika disodorkan nama PP Roorda van Eysinga dengan SEW Roorda van Eysinga. Saudara tiri yang sama-sama punya sederet karya, kita harus mencari jawaban seputar sejarah Lampung yang disebut, "Nenek-moyangku Seekor Naga".

Sekali lagi, buku ini juga menghadirkan mitos irasional. Membaca buku ini, ketika ingin mencari standardisasi, semacam apa sejarah Lampung, tetap tak terjawab sebagaimana kita mendengar pitutur para tetua adat. Banyak hal tidak masuk akal.

Sementara, ketika membaca Yogyakarta Tempo Doeloe, yang ditulis Arwan Tuti Artha, 2000. Kita sudah disodori konstruksi kesejarahan beberapa tempat, misalnya Tugu Golong Gilig, Jam Kota Dibangun Tahun 1916, Beringharjo, dan atau Malioboro. Semua menjadi peta pemancing siapa pun yang membaca, berkeinginan mengunjunginya. Termasuk acara Sekaten dan Antusiasme Wisatawan Nusantara, sebenarnya kita bisa membandingkan mungkin lebih menarik ketika melihat upacara Iraun yang digelar orang Lampung. Akan tetapi apakah Iraun itu masih ada dan dilaksanakan orang di zaman serbamodern seperti Sekaten?

Tulisan yang berbahaya, ternyata juga ada di halaman 133. Judulnya; "Orang Lampung" alih-alih dapat menjelaskan seperti apa orang Lampung sebagaimana tulisan PP Roorda van Eysinga tetang "Orang-orang Jawa". Justru ditulis lebih menyakitkan. "Orang Lampung juga jujur."

Kalimat "jujur" itu, artinya menurut PP Roorda van Eysinga, saya kutipkan dari fragmen yang ada di buku Bunga Rampai Sastra Belanda terjemahan dari Oost Indische Spiegel karya Rob Nieuwenhuys halaman 50; "Bila orang lain melanggar kehormatan istrinya atau pun mengadakan suatu hubungan gelap dengannya maka ia sering main hakim sendiri dan membunuh laki-laki yang lancang itu...tetapi sebaliknya, ada juga yang meminjamkan istrinya untuk sementara waktu kepada orang lain setelah menerima imbalan jasa ala kadarnya. Hubungan serupa itu mereka namakan jujur, karena lepas dari penipuan atau godaan dan diadakan secara terbuka."

Entah apa makna jujur untuk kalimat "Orang Lampung juga jujur" tersebut. Namun, jika sumbernya adalah PP Roorda van Eysinga, berarti orang Lampung tega menjual istrinya.

Kemudian ketika melanjutkan membaca "Tentang Orang Lampung" di halaman 155 oleh RA Kern, jika dia adalah Rudolf Arnold Kern, berarti penulis buku I La Galigo; Orang Bugis Kuno. Di sini, muncul pertanyaan-pertanyaan apakah orang yang terus berkeliling nusantara bisa secara obyektif memberikan gambaran tentang Lampung? Jika kita mencari defenisi orang Lampung, RA Kern lebih dikenal sebagai penulis orang Bugis.

Barulah saya sadar, alangkah sulitnya mencari akar sejarah orang Lampung. Penduduk Lampung semakin ditelisik secara ilmiah, menjadi semakin irasional. Mengandung mistis. Sulit diurai dan menemukan simpulan yang berterima karena terlalu banyak cabang yang saling berbeda antar-buay.  Di halaman 159, sekitar Krui saja ada 20 marga. Penduduknya, sangat sedikit. Itu bisa kita lihat sampai hari ini. Jangan-jangan dengan penduduk berasal dari Bali, di Krui, Kabupaten Pesisir Barat penduduk suku asli Lampung yang punya 20 marga itu jumlahnya tak beda jauh. Apakah kita dipaksa kembali pada jawaban konyol yang irasional dan jadi perundungan. Orang Lampung sedikit karena banyak dimakan harimau? Atau karena sedikit itulah misteri dan keunikan warga Lampung, semacam orang Badui Dalam yang tak pernah lebih dari 40 rumah.
Entahlah, mencari jawaban dari buku Mencari Jejak Masa Lalu Lampung justru membuat bingung. Satu hal yang bisa digumamkan mendekati kebenaran tentang pendapat RA Kern tentang para pemimpin di Lampung sejak 1870. "Pemimpin-pemimpin terpilih itu hanyalah tokoh-tokoh sandiwara saja. Pemerintah Hindia Belanda mengakui, pemimpin-pemimpin itu tidak mempunyai pengaruh sama sekali."

Buku Mancari Jejak Masa Lalu Lampung itu harus menjadi permulaan dari proses pembentukan dan rekonstruksi sejarah Lampung yang lebih komprehensif.  Tidak boleh dianggap selesai, karena belum menghasilkan apa-apa atas beberapa pertanyaan kritis tentang apa dan siapa orang Lampung.

Bu Frieda dan Udo Z Karzi harus menyelesaikan apa yang dimulainya dengan membuat ungkapan-ungkapan yang bikin kuduk merinding semacam syarat memenggal kepala orang sebelum kawin, mengayau, iraun, irawen, minum arak dengan cawan tengkorak manusia bareng pasangan, dan semacamnya. Kita berharap, buku dengan 207 halaman itu menjadi jilid pertama dari minimal 15 jilid.

Itulah harusnya bagian dari tugas Dewan Kesenian Lampung dan MPAL. Bahkan, kita juga layak bertanya, apa kinerja pemerintah untuk menjawab tentang siapa orang Lampung?

Endri Kalianda, Peminat masalah sosial budaya, tinggal di Bandarlampung    


Fajar Sumatera, Rabu, 17 Februari 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar