Rabu, 29 November 2017

Lampungisme: Sosiokultur, Alam, dan Infrastruktur Bumi Ruwa Jurai


Judul: Lampungisme: Sosiokultur, Alam, dan Infrastruktur Bumi Ruwa Jurai
Penulis: Karina Lin
Penerbit: Pustaka LaBRAK, Bandar Lampung
Cetak: I, Oktober 2017
ISBN: 978-602-74519-4-0
tebal: xviii + 150 hlm

Lampung Karina Lin jelajahi melalui 26 tulisan. Isinya beragam sisi dan lini. Yang tampak remeh dalam keseharian kita jadi penuh makna karena perspektif kesejarahan yang kuat. Dia juga mampu menjadikan sesuatu yang sebenarnya serius dan njelimet menjadi ringan dan mudah dipahami oleh orang awam bahkan terkesan lucu.


Kamis, 23 November 2017

Buku tanpa Editor Bukan Buku!

Oleh Udo Z Karzi


MEMBACA status Adam Yudhistira soal "dedek gemes" baru tadi, dan kemudian masuk ke artikel "Jalur Instan Itu Bernama Kedodolan" yang ia sodorkan; saya coba bikin oret-oretan ini.

***

Saya mulai dengan kabar gembira ini. Dikisahkan, Lampung Post menjadi koran berbahasa Indonesia terbaik kelima nasional. Untuk kesekian kalinya koran ini menjadi koran berbahasa Indonesia terbaik se-Sumatera. (Klik: Lampung Post Koran Berbahasa Indonesia Terbaik Kelima Nasional)

Minggu, 22 Oktober 2017

Frieda Amran, Penulis Sejarah Lampung dari Bahasa Belanda

Oleh Imelda Astari



Frieda Amran | Imelda Astari/duajurai.co
BAGI sebagian orang membahas sejarah sangat membosankan. Tapi, bagi sebagian lainnya, mengorek sejarah menjadi sebuah kebutuhan, hal yang membuat ketagihan, hingga merasa hidup di dalamnya.

Adalah Frieda Agnani Amran, atau yang akrab disapa Frieda Amran. Ia merupakan penulis kelahiran Palembang, 21 Agustus 1959. Frieda belajar Antropologi di Universitas Indonesia dan Rijksuniversiteit Leiden negeri Belanda. Ia putri Prof Dr Amran Halim, seorang tokoh pendidikan dan tokoh budaya, guru besar Bahasa Indonesia yang pernah menjabat Rektor Universitas Sriwijaya.


Minggu, 15 Oktober 2017

Penulis Lampung harus Imbangi Buku Frieda Amran


Peluncuran dan Diskusi Lampung Tumbai. | Rikman/Fajar Sumatera
BANDARLAMPUNG — Para penulis di Lampung harus menulis juga mengenai wilayah ini untuk mengimbangi tulisan peneliti Belanda yang disadur Frieda Amran dalam rubrik Lappung Beni di Fajar Sumatera atau sebelumnya Lampung Tumbai di Lampung Post yang kemudian dihimpun dalam dua buku yang terbit 2015 dan 2017.

Antropolog Frieda Amran menegaskan hal itu saat peluncuran bukunya, Meniti Jejak Tumbai di Lampung: Zollinger, Kohler, PJ Veth–Lampung Tumbai 2015 di Pusat Dokumentasi Lampung (PDL) Jalan Imam Bonjol No. 28A Langkapura, Bandarlampung, Sabtu (14/10/2017).


Sabtu, 14 Oktober 2017

Diminta Jadi Ketua Satupena Lampung, Heri Wardoyo: Penulis Saya Kursuskan Bahasa Asing

Oleh Imelda Astari



Frieda Amran (duduk di tengah) meluncurkan buku, Sabtu, 14/10/2017. | Imelda Astari/duajurai.co
BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Wakil Bupati Tulangbawang Heri Wardoyo diminta menjadi Ketua Persatuan Penulis Indonesia (Satupena) Lampung. Bila menjadi ketua, mantan jurnalis itu akan mengirim penulis Lampung ke lembaga kursus bahasa asing.

“Kalau mereka (para penulis) mau faedahnya, bergabung di Satupena. Saya diminta untuk jadi ketua di Lampung,” kata Heri usai menghadiri peluncuran dan diskusi buku “Meniti Jejak Tumbai di Lampung: Zollinger, Kohler, dan PJ Veth -Lampung Tumbai 2015” karya Frieda Amran. Acara berlangsung di Pusat Dokumentasi Lampung (PDL), Rumah Ukir Lampung Agus Suprayoga, Jalan Imam Bonjol, Kemiling, Bandar Lampung, Sabtu, 14/10/2017.