Jumat, 25 Oktober 2013

Teknokra, Jejak Langkah Pers Mahasiswa


Judul buku: Teknokra, Jejak Langkah Pers Mahasiswa
Editor: Budisantoso Budiman dan Udo Z. Karzi
Penerbit: Teknokra dan Pustaka LaBRAK
Cetakan: I, Maret 2010
ISBN: 9786029673104
Tebal: xvii + 325 hlm

BERBICAR persma tak lepas dari berbicara soal romantisme gerakan mahasiswa di negeri ini. Bila menilik sejarah, persma memiliki peran strategis sebagai media penyulut semangat gerakan mahasiwa. Bukan main perannya, persma hadir sebagai alat dan corong kekuatan aktivis gerakan mahasiswa. Melalui tulisan–tulisannya, aktivis persma mencoba menghadirkan nuansa propaganda dengan tujuan menyatukan semangat mahasiswa di seantero negeri ini.

Persma meski hidup dalam “cengkraman” birokrat kampus juga tetap konsisten pada penerapan prinsip jurnalisme dalam mengungkap fakta. Berbagai permasalahan menyangkut kepentingan mahasiswa, dosen dan kebijakan kampus tetap disajikan secara konfrehensif melalui proses jurnalistik (mencari, menulis, menyunting hingga menyebarkan informasi). Prinsip inilah yang mewarnai aktivitas persma saat ini, tak terkecuali Pers Mahasiswa Teknokra Unila. Teknokra yang sedari 1 Maret 1977 berdiri turut menjadi pelaku sejarah dalam romantisme persma Indonesia.

Banyak kisah menarik, menakutkan, dan mengharukan mewarnai jejak langkah perjalanan panjang Teknokra terangkum dalam buku ini. Selain menyajikan sekelumit kisah perjalanan Teknokra, juga menampilkan secercah kesaksian para penggiatnya. n

Kamis, 17 Oktober 2013

Budisantoso Budiman

JURNALIS/REDAKTUR Perum LKBN ANTARA Biro Lampung-redaktur eksekutif antaralampung.com; mantan Kepala Biro LKBN ANTARA Sumatera Selatan (2008-2012); pendiri dan mantan Sekretaris Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung; pernah menjadi Ketua (Pemimpin Redaksi/Pemimpin Usaha) Surat Kabar Mahasiswa Teknokra Universitas Lampung. Kini ditugasi juga sebagai penguji kompetensi wartawan/jurnalis Lembaga Pers Dr Soetomo-Dewan Pers-AJI, dan LKBN ANTARA; fasilitator dan pemateri pelatihan jurnalistik dan kehumasan. Lulusan S-1 Jurusan Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian Universitas Lampung (1993), peserta Program Diploma DEvelopment Journalism Indian Institute of Mass Communication (IIMC) di New Delhi, India (2011). n

Bukunya:
* Teknokra: Jejak Langkah Pers Mahasiswa (editor bersama Udo Z. Karzi)

Jumat, 19 Agustus 2011

Tiga Buku Budaya Lampung Terbit

BANDARLAMPUNG -- Tiga buku bernuansa khazanah sastra, budaya, dan sastra daerah Lampung diluncurkan. Editor salah satu penerbit yang menerbitkan buku tersebut, Udo Z Karzi, di Bandarlampung, Jumat, mengatakan, kehadiran tiga buku tersebut diharapkan dapat memperkaya wawasan generasi muda sekarang, terutama untuk mengenal sejarah, dan sastra klasik di Lampung.

Tiga buku budaya Lampung.
Ketiga buku yang diterbitkan itu, dua buku diantaranya berbahasa Lampung, yaitu novel Radin Inten II karya Rudi Suhaimi Kalianda dan karya klasik Warahan Radin Jambat suntingan Iwan Nurdaya-Djafar dengan redaktur ahli, Hilman Hadikusuma. Satu buku lainnya yaitu Hikayat Nakhoda Muda, Memoar Sebuah Keluarga Melayu karya Lauddin.

Rudi Suhaimi Kalianda dalam novelnya Radin Inten II menceritakan kembali sejarah perjuangan pahlawan nasional dari bumi Lampung dengan penuturan berbahasa Lampung.

"Buku Radin Inten II terdiri dari enam pembabakan cerita, diawali dengan Sanak Ngura Sai Mebani, Jadi Kepala keratuan Darah Putih, Kalianda Berkobar, Pertempuran di Benteng Bendulu, Sampai Sepebelaan Rah, dan Gugorni Sang Pahlawan," kata sang penulis.

Sedangkan Hikayat Nahkoda Muda: Memoar Sebuah Keluarga Melayu merupakan karya sastra klasik berbahasa Melayu dalam huruf Jawi (Arab Melayu), ditulis oleh La Uddin jdkk.

Kisah petualangan tersebut merupakan karya klasik yang  rampung pada 1202 Hijriyah atau 1778 Masehi. Naskah ini kemudian diterjemahkan William Marsden ke dalam bahasa Inggris dengan judul Memoirs of a Malayan Family, 1830. Lalu, diterjemahkan lagi ke bahasa Indonesia oleh Iwan Nurdaya-Djafar.

Sedangkan Warahan Radin Jambat merupakan manuskrip yang didapat Profesor Hilman Hadikusuma (alm) dari seorang peneliti asal Jepang Yoshie Yamazaki dari perguruan tinggi Tsuda College Jepang.

Naskah itu diperoleh semasa Yamazaki melakukan penelitian tentang transmigrasi di Lampung pada tahun 1984-1986. "Warahan Radin Jambat memiliki 703 bait, bentuknya reringget yang paling tua di Lampung. Dengan pola persajakan tetap dan terikat banyaknya brais dalam setiap bait. Reringget merupakan sastra lisan yang mendekati pantun yang biasa kita kenal," kata Iwan.

Dia menjelaskan, penerbitan Warahan Radin Jambat dan Hikayat Nakhoda Muda merupakan upaya  menyelamatkan naskah kuno di Lampung. "Agar kekayaan bumi Lampung yang tak ternilai harganya ini dapat tetap ada dan tak hilang dimakan zaman," kata dia.

Senada dengan itu, Direktur BE Press Y. Wibowo menyatakan kegembiraannya dengan terbitnya tiga buku tersebut. "Ketiga buku itu, baik yang berbahasa Lampung maupun yang bukan berbahasa Lampung, memiliki setting Lampung dan kental dengan aroma sejarah dan budaya Lampung," kata dia. (ANT)

Sumber: Oase, Kompas.com, Jumat, 19 Agustus 2011

Kamis, 12 Agustus 2010

Anggota DPR Daerah Pemilihan Lampung Rilis Buku

ANGGOTA Komisi V DPR daerah pemilihan Lampung Abdul Hakim, merilis buku tentang pemikiran dan upayanya dalam menjalankan amanat konstituen, berjudul "Amanat Telah Saya Sampaikan".

PELUNCURAN BUKU. Abdul Hakim (kiri) sedang menyampaikan testimoni
dalam peluncuran buku karyanya, Amanat Telah Saya Sampaikan di Bukit
Randu, Kamis (12/8). Tampil sebagai pembahas, dosen FISIP Unila
Syarief Makhya (kanan) dengan moderator sastrawan Y. Wibowo (tengah).
"Buku ini saya buat sebagai bentuk penyampaian tanggung jawab saya kepada publik mengenai apa yang sudah, sedang, dan akan dilakukan sebagai wakil rakyat saat ini," kata dia, di Bandarlampung, Kamis.

Menurut dia, buku setebal 148 halaman itu merupakan kumpulan bentuk pemikiran terhadap konstituennya yang "terserak" dan cukup berarti jika disatukan dalam sebentuk buku.

Sebagai seorang anggota dewan, kata dia, dirinya dituntut untuk terus berbicara tanpa melupakan rasionalitas yang berdasarkan fakta dan data, sebab apa yang keluar dari mulut seorang anggota dewan adalah representasi dari aspirasi rakyat yang diwakilinya.

"Bisa dikatakan, buku itu mencatat semua aspirasi rakyat yang saya wakili dan apa yang saya lakukan dalam mengemban aspirasi tersebut," kata dia.

Hampir keseluruhan isi buku yang diterbitkan oleh Pustaka Labrak dan BE Press tersebut ditulis langsung oleh Hakim sendiri, dengan bantuan sastrawan Lampung Udo Z Karzi dan Yunita Savitri sebagai editor.

Sementara itu, Udo Z. Karzi mengatakan, buku tersebut bisa merupakan sebagai bentuk komunikasi nonverbal dari seorang wakil rakyat kepada masyarakat atau konstituennya.

"Kalau ada pertanyaan apa saja yang telah dilakukan selama duduk di kursi DPR, sedikit banyak dari buku ini penulis telah menjelaskan," kata dia.

Udo melanjutkan, buku tersebut berbicara tentang rangkaian pemikiran Abdul Hakim terkait dengan posisinya di Komisi V DPR.

Komisi itu mempunyai ruang lingkup perhubungan, pekerjaan umum, perumahan rakyat, pembangunan perdesaan dan kawasan tertinggal, serta meteorologi, klimatologi, dan geofisika.

"Bisa dibilang, masyarakat mendapatkan semacam 'laporan pertanggungjawaban' atas amanat yang mereka titipkan kepada Hakim," kata Udo.

Abdul Hakim adalah tokoh yang dianggap Udo sudah banyak menginspirasi di Lampung.

Jauh sebelum menjejakkan kaki di Senayan, Abdul Hakim sudah memulai langkah kecilnya membangun moralitas kaum muda di Lampung.

Lelaki kelahiran desa Palanyar, Pandeglang, 9 September 1963 ini aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan saat masih berkuliah di Universitas Lampung pada tahun 1980-an.

Impiannya untuk membangun moralitas kaum muda diwujudkan lewat dakwah dan memberikan pendidikan agama kepada mahasiswa.

Ia adalah pendiri pondok pesantren mahasiswa Darul Hikmah Lampung, yang banyak melahirkan mahasiswa-mahasiswa berprestasi, dengan kemampuan akhlak yang bisa dipertanggungjawabkan.

Karir perpolitikannya diawali pada 1999, dengan terpilih sebagai anggota DPRD Lampung dan mengetuai Komisi E DPRD Lampung yang membidangi Pendidikan, Sosial, Agama, dan Kepemudaan.

Dalam Pemilu 2004, anak ketiga dari Mukhtasar dan Atiyah ini berhasil menembus ketatnya persaingan menuju Senayan dan menjadi Ketua Forum 21 yang menjadi wadah anggota DPR dan DPD asal Lampung.

Pada pemilu 2009, untuk kedua kalinya, Hakim terpilih kembali sebagai anggota DPR mewakili Dapil Lampung II untuk periode 2009-2014.

Sumber: Antara, Kamis, 12 Agustus 2010

Buku Karya Abdul Hakim Diluncurkan

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Buku Amanat Telah Saya Sampaikan karya Anggota Komisi V DPR asal Lampung Abdul Hakim diluncurkan hari ini, Kamis (12-8).

Peluncuran buku tersebut akan diselenggarakan di Bukit Randu, pukul 16.00, yang kemudian diteruskan dengan buka puasa bersama.

Menurut Abdul Hakim, buku setebal 148 halaman tersebut dibuatnya sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada publik mengenai apa yang telah, sedang, dan akan dikatakan dalam berbagai kesempatan, baik itu dalam situasi formal maupun tidak formal.

Sebagai seorang anggota Dewan, kata Abdul, dirinya dituntut untuk terus berbicara tanpa melupakan rasionalitas yang berdasarkan fakta dan data. Sebab, apa yang keluar dari mulut seorang anggota Dewan adalah representasi dari aspirasi rakyat yang diwakilinya.

"Apa yang telah saya lontarkan dalam berbagai kesempatan dalam bentuk pemikiran yang terserak itu kan cukup berarti jika disatukan dalam sebentuk buku," kata Abdul Hakim mengenai karyanya yang diterbitkan atas kerja sama Pustaka Labrak dan BE Press tersebut.

Sementara itu, penerbit sekaligus editor Udo Z. Karzi mengatakan buku Amanat Telah Saya Sampaikan tersebut bisa merupakan sebentuk komunikasi dari seorang wakil rakyat kepada masyarakat (konstituen)-nya.

"Kalau ada pertanyaan apa saja yang telah dilakukan selama duduk di kursi DPR, sedikit banyak dari buku ini penulis telah menjelaskan," kata dia.

Buku ini berbicara tentang rangkaian pemikiran Abdul Hakim terkait dengan posisinya di Komisi V DPR. Komisi ini mempunyai ruang lingkup Perhubungan, Pekerjaan Umum, Perumahan Rakyat, Pembangunan Perdesaan dan Kawasan Tertinggal, serta Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. (MG13/K-1)

Sumber: Lampung Post, Kamis, 12 Agustus 2010