Rabu, 05 Agustus 2015

Syaiful Irba Tanpaka

Lahir di Telukbetung, Bandar Lampung, 9 Desember 1961. Ketua Harian Dewan Kesenian Lampung (2001-2010) ini sekarang Sekretaris Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) Cabang Lampung dan bergiat di Komunitas Budaya Jaringan Tradisi Nusantara. Bukunya: Mata-mata (kumpulan sajak, 1984), Buku Puisi (kumpulan sajak, 1996), Karena Bola Matamu (kumpulan sajak, 2007), dan Dunia yang tidak Pernah Menjadi Tua (kumpulan cerpen, 2013).

Kontributor untuk: Rumah Berwarna Kunyit' (2015)

Syamsul Arifien

Lahir di Gisting, 9 Mei 1968. Ia pernah menjadi wartawan Harian Tamtama/Lampung Ekspres (1997-2000), anggota KPU Lamtim (2008 -2011), Ketua KPU Lamtim 2012-2014. Ketua Kelompok Musik Gamelan Jamus Kalimosodo Lampung (1999-sekarang), Ketua Dewan Kesenian Metro (2003-2004), Ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Se Indonesia (Lesbumi) PWNU Lampung, dan pegiat forum pengajian budaya Sekala Selampung (2013-sekarang).

Kontributor untuk: Rumah Berwarna Kunyit' (2015)

Tri Purna Jaya

Lahir di Jakarta tahun 1982. Penikmat kopi dan pencinta puisi. Sehari-hari menjadi buruh berita di Tribun Lampung. Pernah mencicipi deadline beberapa media: Lampung Post, I Love Lampung Magazine, Radio KBR68H, Okezone, dan Asia Calling Radio. Anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung. (Sempat) aktif menulis di media massa untuk tulisan lepas nonjurnalistik. Saat ini (masih) menyempatkan diri menulis di blog pribadi.

Bukunya yang diterbitkan Pustaka LaBRAK: Senja Menuju Pulang (kumpulan sajak, 2015)

Kontributor untuk: Rumah Berwarna Kunyit' (2015)

Yoke Muelgini

Lahir di Tanjungkarang, Lampung, 30 Desember 1958. Dosen di Jurusan Ekonomi Pembangunan, FEB Unila. Ia menyelesaikan pendidikan Doktor Ilmu Ekonomi di FEUI (2004) dan M.Sc. dalam Ilmu Ekonomi di Dept of Econ, Iowa State University, Ames, Iowa, USA.  Pendidikan Sarjana Ekonomi Pertanian di Universitas Lampung.  Selama menjadi pelajar dan mahasiswa, ia aktif dalam menjadi Ketua OSIS dan Ketua SMF, Pemimpin Umum Surat Kabar Mahasiswa Teknokra, Participant (1979) dan Group Leader (1986) Program Pertukaran Pemuda Indonesia-Kanada (CWY Exchange Program). Pada waktu luang dan akhir minggu, ia menggunakan waktunya untuk membaca, menulis, menyanyi di rumah, belanja di berbagai pasar tradisional, bersepeda, berenang, dan berkebun bersama keluarga, dan berwirausaha.

Kontributor untuk Rumah Berwarna Kunyit' (2015)

Selasa, 28 Juli 2015

"Sajak Bujang Tak Punya Uang” Tri Purna Jaya Buat Pembaca Terpingkal-Pingkal

Oleh Adian Saputra

Tri Purna Jaya
Duajurai.com, Bandar Lampung – Ada satu sajak dalam buku kumpulan puisi karya wartawan Tribun Lampung dalam buku Senja Menuju Pulang ini yang lucu dan membuat pembaca terpingkal-pingkal. Duajurai.com mengutip status Facebook Udo Z Karzi, Direktur Pustaka Labrak, yang menerbitkan karya anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung ini.

Silakan disimak ya.


Sajak Bujang Tak Punya Uang:

Sabtu ini terlihat sendu
ketika kusadari betapa tipis ini saku
dompet biru merajuk malu
saat kusapa, “Aku kangen kamu”

Oh hari Sabtu
tangki bensin berdebu
duhai malam Minggu
meringkuk memegang erat perutku.


Oki Hajiansyah Wahab, seorang netizen yang juga anggota AJI Bandar Lampung sampai terpingkal-pingkal usai membaca sajak bikinan jurnalis yang sebentar lagi memasuki jenjang rumah tangga ini.

“Sajak Bujang Tak Punya Uang ini yang bikin ngekek, wakakakaka,” tulis Oki dalam percakapan Facebook.

Pustaka Labrak dan Indepth Publishing bekerja sama menerbitkan kumpulan puisi Tri Purna Jaya ini. Insya Allah sebentar lagi pembaca di Bandar Lampung bisa membeli buku kumpulan puisi yang bahasanya segar dan tak njelimet ini.

Sumber: DuaJurai.com, 28 Juli 2015